Enam Kecamatan Rawan Banjir

Rabu, 02 Februari 2011

Linggau Rawan Kebakaran

MUARA BELITI–Masyarakat di enam kecamatan mesti waspada dengan bencana banjir tahunan. Wilayah sering terjadi bencana banjir antara lain Muara Lakitan, Muara Kelingi, BTS Ulu, Rawas Ilir, Karang Dapo, dan Rupit. 
Dengan cuaca tidak menentu sekarang Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Mura cepat tanggap mengantisipasi bencana alam tersebut.
 Mulai mengantisipasi tenaga medis, alat dan bantuan yang sudah disiapkan.
Kadis Sosial Kabupaten Mura, Hj Maemunah melalui Kepala Bidang Organisasi Bantuan Sosial (Kabid Orbansos), Azwar, Selasa (1/2) menjelaskan mengantisipasi bencana alam pihak belum menerima kabar dari pekeja sosial masyarakat di setiap  kecamatan. Tetapi pihak Dinsos sudah memberikan surat edaran agar selalu waspada terhadap cuaca ekstrem hingga Juli 2011,
“Dinsos sudah menyiapkan bantuan berupa beras 400 gram per jiwa per hari sudah ditetapkan Pemkab Mura. Serta tim Taruna Siaga Bencana (Tagana) berjumlah 25 anggota siap kapan saja apabila pekerja sosial masyarakat ditiap kecamatan mengabarkan bencana ada yang 24 jam piket setiap hari. Serta sudah disiapkan alat berada pada Muara Lakitan dan Muara Kelingi berupa dua perahu lengkap dengan alatnya yang suda ada di lokasi,” jelasnya.
Sementara di Kota Lubuklinggau berdasarkan data, merupakan daerah rawan bencana alam kebakaran. Hal ini terbukti dengan tingkat kebakaran terjadi sejak 2008 hingga 2010 cukup tinggi. Informasi ini disampaikan Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Lubuklinggau, Edison Jaya, melalui Kabid bantuan dan Perlindungan Sosial, Edi Rogiansyah, kepada wartawan koran ini dikantornya, Selasa(1/2).

Edi menambahkan, tingginya angka kebakaran tersebut disebabkan kepadatan rumah di Kota Lubuklinggau. “Kota Lubuklinggau setiap tahun bertambah ramai, jadi kebakaran dapat terjadi kapan saja,” ucapnya.

Dijelaskan Edi, selain kebakaran musibah terjadi di Kota Lubuklinggau yakni angin puting beliung, banjir, dan tanah longsor. Untuk bencana puting beliung, banjir dan tanah longsor tergantung cuaca yang ada.

Diakui Edi, Dinas Sosial selalu siap ketika terjadi bencana sosial dalam hal evakuasi dan penyediaan stok makanan. Kesiapan tersebut dibuktikan dengan adanya dana untuk bencana sosial dari pusat melalui dinas Provinsi. “Kucuran dana tersebut nantinya akan dibelikan beras 0,4kg permasing-masing orang yang menjadi korban bencana,” ucapnya.

Selain kesiapan dana, untuk bantuan sosial, penanganan evakuasi korban bencana dilakukan Tagana bertugas 24 jam. Untuk memudahkan komunikasi antar petugas disiapkan alat komunikasi antar petugas di posko Tagana dan petugas yang berada d masing –masing kelurahan.
”Petugas kita siap 24 jam mereka bekerja sesuai sift jaga, baik pagi, siang dan malam ketika ada laporan bencana petugas langsung bergerak dan siap membantu masyarakat,” ucapnya.

Edi juga mengungkapkan,petugas dilengkapi dengan peralatan –peralatan yang berhubungan dengan penanggulangan bencana. Seperti tenda, palbet, genset, peralatan dapur umum, matras, baju pelampung, perahu karet. Kemudian mobil operasional, radio HT, radio 2band dan computer beserta perlngkapan lainnya.

Dalam hal bertugas petugas posko penanggulangan bencana diatur dalam Keputusan Walikota Lubuklinggau Nomor 24/KPTS/Sosial/2010 Tentang Penunjukan Petugas Posko Penanggulangan Bencana Tingkat Kecamatan dan kelurahan dalam wilayah Kota Lubuklinggau tahun 2010.
”Dengan adanya keputusan Walikota tersebut, penanganan bencana ini sudah menjadi program dari pemerintah Kota Lubuklinggau,” sambungnya.

Selain Tagana, dalam penanggulangan bencana pihaknya juga bekoordinasi dengan instansi terkait seperti Pemadam Kebakaran, Dinas Kesehatan, Dinas PU untuk infrakstrukturnya, aparat keamanan.
Untuk koordinasi tersebut kedepannya akan dibuat suatu badan diberi nama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
”BPBD tersebut nantinya akan mengatur koordinasi petugas yang berkaitan dengan penanggulangan bencana. Koordinasi sesuai tupoksi masing–masing,” pungkasnya. (Mg01/Mg03)

 


    ShoutMix chat widget