Malam Bulan Purnama ke-3 KISLIRA

Senin, 24 Januari 2011

Teater Romeo dan Juliet Memukau Penonton

Malam bulan purnama ke-3 dari Komunitas Insan Seni Linggau-Mura (KISLIRA) di Gedung Subkoss Garuda, Kelurahan Pasar Permiri, Kecamatan Lubuklinggau Barat II, Sabtu (23/1) malam memukau penonton. Kisah cinta klasik Romeo dan Juliet menjadi suguhan utama teater pada malam pertunjukkan tersebut. Berikut laporannya.

Sulis, Lubuklinggau

Romeo… Juliet… Romeo..Juliet… Romeo.. Juliet suara parau dan sendu tiba-tiba menyeruak dan menyulap keadaan lebih mencekam. Dua keranda berselimutkan kain hitam dipanggul oleh delapan pria, diikuti dua wanita dengan mengisakkan tangis mengirigi suasana pemakaman Romeo dan Juliet. Shakespeare berada di balik semua ini. Itulah sepenggal adegan Romeo dan Juliet disaksikan penonton pada Malam Bulan Purnama ke-3 suguhan dari KISLIRA dibalut pertunjukkan teater. Sebelum teater digelar, beberapa lagu dan puisi bertemakan cinta menjadi suguhan awal penonton Malam Bulan Purnama ke-3 KISLIRA. Sebuah lagu ‘Ketika Cinta Bertasbih’ mengawali pertunjukan. Disusul dengan lantunan sendu siswa SMK Yadika membawakan laras dari
band papan atas ST12 ‘Cinta Tak Harus Memiliki’.
Puisi musikal ‘Sang Penakluk’ dibawakan Evi Handayani dan Armada tampil memukau. Dilanjutkan dengan penampilan nasyid Pondok Pesantren Mafaza Lubuklinggau.
Penonton semakin dibuat tak sabar, ketika Ricky dan Siska, Master Ceremony Malam Bulan Purnama ke-3 menyebut nama Rusmana Dewi. Wanita yang anggun dengan balutan busana serba hitam ini mulai menampilkan monolog menceritakan sosok Laila dan Kaish, sebagai sepasang sejoli yang menjaga dengan utuh rasa cintanya hingga mati.
Monolog kisah percintaan yang penuh romantisme kesetiaan ini, ternyata menjadi gerbang pembuka menuju puncak acara Malam Bulan Purnama ke-3 KISLIRA berupa teater ‘Membunuh Shakespeare’.
Shakespeare diwujudkan sebagai sosok manusia yang ahli dalam membuat syair dan drama. Karyanya diagungkan kalangan muda. Bahkan, kiblat percintaan banyak mengacu pada puisi-puisi karya Shakespeare.
Shakespeare yang diperankan oleh Genok, tampil dengan kewibawaannya sebagai penyair. Jas hitam dan kemeja putih membalut penampilannya yang meyakinkan. Darah seni yang mengalir ditubuhnya tercermin dari penampilannya dengan rambut panjang ikal.
Salah satu pasangan muda yang mengagungkan Shakespeare yakni Mario (Toriko Sanjana) dan Diana (Ira Donati). Mereka kagum pada keagungan syair-syair Shakespeare. Dua sejoli yang dimabuk cinta tersebut berharap kebahagiaan hidupnya diwarnai dengan bait-bait syair romantis.
Dansa dua sejoli ini memberikan nuansa romantis yang terus menyedot perhatian penonton. Dengan balutan gaun berwarna merah, paras yang ayu, dan rambut panjang menjuntai, Diana semakin pandai menawarkan api-api cinta terhadap pasangannya, Mario.
Mario menyambutnya dengan penuh kegagahan. Wibawanya lebih lembut dengan gerakan dansa yang beriringan. Ia tampak lebih tampan dengan kemeja merah dan celana hitam. Tatanan rambutnya tak menggoyahkan pandangan Diana.
Namun tiba-tiba panggung berubah mencekam. Romeo (Benny Arnas) bingung oleh tingkah polah Juliet (Yeni Elvita). Dengan tertatih-tatih, Juliet mencoba meyakinkan bahwa Romeo lah pangeran yang telah mengirimkan syair-syair indah untuknya.
Romeo semakin tak mengerti. Juliet mengiba dan menunjukkan helaian-helaian kertas yang bertuliskan puisi-puisi romantis, memuja-muja Juliet. Romeo terperangah, dan mencoba meyakinkan.
“Ah… buat apa aku menulis puisi-puisi untukmu? Tidak mungkin aku menulisnya. Hah… aku yakin, dibalik semua ini adalah Shakespeare!” kata Romeo dengan nada tinggi mengekpresikan pengelakkannya atas tuduhan Juliet.
Romeo semakin geram, ketika Juliet terus memintanya untuk mengakui bahwa puisi-puisi tersebut hasil tulisan sang Romeo.
Sejatinya, kebimbangan juga tengah merasuk dalam relung hati Juliet. Namun, ia tidak sanggup melakukan apapun. Hanya tangis pilu dan kebimbangan menyeruak dalam jiwanya. Perihnya sayatan penolakan Romeo, menyisakan isak dan tangis Juliet. Ia menunduk lemah.
Shakespeare kembali tampil dengan mimik lebih ramah. Diana dan Mario bersimpuh mengangungkan Shakespeare. Penyair yang tangguh ini terus menguatkan, dan meyakinkan Diana, bahwa Mario adalah lelaki sejati yang akan menjadi penyair besar. Sekaligus pangeran yang terus mengiringinya dengan untaian kata-kata romantis. Dua sejoli ini kian mabuk dibuatnya. Buaian-buaian Shakespeare terus merasuk, sampai akhirnya kiblat cinta terpupuk mengagungkan Shakespeare.
Namun, seketika kenyataan berbalik. Ketika Shakespeare tengah lelap dalam tidurnya. Romeo dan Juliet muncul dengan kostum berwarna putih. Dua anak Adam ini hadir dalam alam mimpi Shakespeare. Seakan mereka mengetahui, Shakespeare yang ada di balik kematian Romeo. Dan Shakespeare pula sebagai penyebab kematian Juliet. Bukan karena keduanya saling mencintai. Melainkan Shakespeare yang mengetahui persis apa yang terjadi dibalik semua ini.
Untuk diketahui pada 4 April 2010 lalu, cerpen “Membunuh Shakespeare” pernah terbit di salah satu media cetak di Provinsi Lampung. Cerpen karya penulis kondang asal Kabupaten Musi Rawas (Mura), Benny Arnas ini mengangkat tema percintaan antara Romeo dan Juliet. Benny Arnas membuat kisah ini dengan ending yang berbeda.
“Masyarakat secara umum, mengiblatkan percintaan layaknya Romeo dan Juliet. Namun, saya memiliki persepsi yang agak berbeda dengan masyarakat secara umum. Karena ada beberapa kisah yang jauh lebih baik sebagai kiblat percintaan yang nyata dibanding kisah Romeo dan Juliet yang sesungguhnya hanya fiksi. Seperti kisah Rasulullah dan Aisyah atau tentang Laila Majnun. Namun, sebagai pecinta seni saya tidak ingin dengan kasar menentang persepsi tersebut. Salah satu cara yang saya lakukan dengan mencoba meluruskan persepsi masyarakat melalui cerpen Membunuh Shakespeare,” jelas Benny Arnas berbincang dengan wartawan koran ini, Minggu (23/1).
Menurut Benny Arnas, menampilkan cerpen, puisi maupun sejenisnya dalam pertunjukan telah umum dilakukan. Oleh sebab itulah, dalam Malam Bulan Purnama ke-3 KISLIRA, Benny Arnas menampilkan teater dengan konsep lebih eksklusif dan elegan. Pria yang juga aktif sebagai Ketua Divisi Sastra KISLIRA ini berinisiatif menulis cerpen “Membunuh Shakespeare” ke dalam naskah teater. Pengalaman pertama, yang akhirnya direspon baik oleh teman seperjuangan sekaligus sutradara Membunuh Shakespeare, Inung.
Teater “Membunuh Shakespeare” mampu menyedot perhatian ratusan pasang mata. Pada Malam Bulan Purnama ke-3 KISLIRA hadir Ketua KISLIRA, Solihin, Kadispora Mura, Badaruddin dan keluarga, Perwakilan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Mardi, dan Pimpinan Pondok Pesantren Mafaza, Ferry.
Benny Arnas yang juga sebagai Ketua Panitia Malam Bulan Purnama ke-3 mengucapkan terima kasih kepada segenap keluarga bersar KISLIRA, Dovi Rustam (Costume), Berita Harahap (Make Up) dan seluruh masyarakat Kabupaten Mura dan Kota Lubuklinggau selalu mendukung dan mencintai seni.
Benny mengaku cukup bahagia dan sangat bersyukur. Berkat kerja sama yang solid dalam KISLIRA, Malam Bulan Purnama ke-3 bisa berjalan dengan lancar. Terlebih, ia sangat bersyukur dalam teater naskah perdananya ini, ia bisa berperan ganda. Selain sebagai pembuat naskah, Benny Arnas juga berperan sebagai pemain.
“Teater kemarin malam itu penampilan perdana bagi saya. Dan tentunya saya akan sangat ketagihan,” katanya dengan ramah. (*)






    ShoutMix chat widget