Empat Anak Berhasil Berkat Usaha Jamur Merang

Di usia 70 tahun Mukidin masih gesit merawat log-log jamur merang di sebuah bangunan berukuran 5x20 meter berdinding papan di Kelurahan Marga Rahayu, Kecamatan Lubuklinggau Selatan II, lengkap dengan ventilasi yang sejuk. sehingga udara bisa lebih bebas di dalamnya. Berikut kisahnya.

Sulis, Marga Rahayu

SEBELUMNYA tidak pernah terbersit dibenak pensiunan TNI Angkatan Darat (AD) bertugas di Kodim 0406 Mura pada tahun 1990 menjadi seorang pengusaha jamur di kota berslogan Sebiduk Semare Mengembangkan budidaya jamur merang bukan perkara gampang. Bahkan ketika memulai bisnis ini, puluhan ribu log yang dibuat Mukidin tidak memberikan hasil yang maksimal. Akhirnya Mukidin harus menanggung rugi Rp 10 juta.
“Itu perjalanan pertama karena saya benar-benar semangat. Setelah dua tahun pensiun, mencoba berbagai bisnis dan usaha selalu rugi. Bahkan menanggung hutang bank. Sampai akhirnya ketika saya ke Jogja saya tertarik melihat proses petani jamur di Kaliurang sedang membuat media (log). Setelah terus menerus mengamati, akhirnya saya berinisiatif mengembangkan bisnis ini di Lubuklinggau,” terang Mukidin sembari duduk di samping rumahnya, jalan Mawar Merah No 57 RT 3 Kelurahan Marga Rahayu.
Setelah terus menerus mencoba, akhirnya kakek kelahiran 20 Desember 1941 berhasil menghasilkan jamur Merang seperti diharapkannya. “Tepatnya tahun 2007 saya merintis usaha ini dengan hasil sudah kelihatan tahun 2008. Konsumen jamur merang di Lubuklinggau sangat banyak. Bahkan kemungkinan bisnis ini akan terus diminati. Kalau kami pribadi saat baru menjamah ke konsumen di Palembang, ” jelas Mukidin.
Dari usaha jamur ini, nama Mukidin mencuat di Kota Lubuklinggau. Bahkan beberapa penghargaan telah berhasil diraihnya. Salah satunya penghargaan Kalpataru pada Juni 2010.
Seperti kita tahu, dalam sejarah jamur telah dikenal sebagai makanan sejak 3000 tahun lalu, di mana jamur menjadi makanan khusus untuk raja Mesir yang kemudian berkembang menjadi makanan spesial bagi masyarakat umum karena rasanya yang enak. Di Cina, pemanfaatan jamur sebagai bahan obat-obatan sudah dimulai sejak dua ribu tahun silam.
Meskipun demikian, menurut Mukidin hingga saat ini jamur Merang hasil produksinya baru merambah pada pemasaran konsumen yang ingin memanfaatkan jamur untuk dimasak.
Untuk terus eksis mempertahankan usaha menjanjikan ini. Mukidin akan terus berinovasi dengan memanfaatkan masa pensiunnya agar lebih produktif. “Saya masih berkeinginan untuk mengembangkan pembibitan jamur merang. Ini merupakan jalan pertama yang akan dilakukan sebelum merambah usaha dalam bentuk industri,” jelas Mukidin.
Suami Tariyah berencana akan mengegolkan rencana ini 2011 mendatang. Sebab menurut Mukidin, jika sudah menuju skala industri dan bibit terus diambil dari Jawa. Maka untung yang akan diterima sangat kecil. “Saat ini biaya transportasi sangat mahal, belum lagi kendala dalam perjalanan lebih besar,” jelas kakek berpostur tinggi ini.
Mukidin tetap serius mengelola usaha jamur merang yang memiliki nama ilmiah Volvariella volvacea. “Saya masih bercita-cita untuk menjual bibit dan log yang siap menunggu panen. Sehingga di Lubuklinggau semakin banyak yang membudidayakan jamur Merang ini. Meski sekarang saya sudah membina dua kelompok di Siring Agung dan Tugumulyo tetapi permintaan yang terus meningkat menuntut pelaku usaha untuk terus berinovasi meningkatkan produksi. Kalau bisa tahun depan produksi kami menghasilkan 50 Kg per hari,” jelas Mukidin.
Ia merasa lebih leluasa memanfaatkan hasil jerih payahnya dengan dibuktikan lima putranya telah berhasil. “Keempat anak saya sudah bisa mencari rezeki sendiri, tinggal satu yang kuliah. Makanya hasil menjual jamur ini bisa ditabung. Per bulan bisa mengantongi laba bersih Rp 3 juta sampai Rp 4 juta. Saya dan istri ingin segera naik haji,” jelas Mukidin di akhir perbincangan. (*)


    ShoutMix chat widget