Lantunkan Ayat Suci Al-Quran di Atas Kursi Roda

Meski kedua kakinya lumpuh tapi Andi Suwito (23) mampu melantunkan surat Al-Imran ayat 102-104 dihadapan ratusan tamu. Ia mengaji pada acara Halal Bihalal keluarga besar Muhamadiyah dan Aisyiyah, Rabu (6/10). Berikut laporannya.

Sulis, Bandung Kiri

BERPAKAIAN batik warna coklat dipadu celana dasar warna hitam dan peci bertengger di kepalanya, Andi Suwito duduk di atas kursi roda yang menjadi penopang tubuhnya. Ia memang agak berbeda dengan remaja pada umumnya. Dengan segenap kekhusyukan, Andi Suwito terus membawa jemaah yang hadir turut meresapi tiap ayat yang dibacakannya dengan irama tilawah.
Sejenak kebisingan halaman komplek Muhammadiyah, jalan Letkol Atmo No. 23 Kelurahan Bandung Kiri, Lubuklinggau Barat I, berubah menjadi lebih tenang. Seluruh jemaah yang hadir khusyuk meresapi setiap ayat yang dibacakan Andi Suwito.
Namun, ada juga sebagian yang tampak tertarik dengan penampilan Andi Suwito. Beberapa rekan pers langsung mendokumentasikan momen ini.
Pria kelahiran Sungai Pinang, 27 September 1987 ini mengaku telah terbiasa mengaji di kegiatan-kegiatan formal di sekolah maupun di masyarakat, terutama untuk membaca Al-Quran. Kebiasaan ini telah ditekuninya sejak aktif  di Islamic Centre Muhammadiyah.
Memiliki tubuh yang tidak sama dengan remaja pada umumnya karena kedua kakinya lumpuh sejak kecil, tidak membuatnya menyerah. Bahkan, di usianya sekarang membuat ia makin yakin, Allah SWT memiliki rencana yang lebih indah.
“Dulu saat kelas tiga SD sempat down, malu, dan merasa paling terpuruk. Tapi setelah terus menerus orang tua mendukung akhirnya saat ini saya sudah bisa kuliah semester pertama di STAIS Bumi Silampari dan mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI),” terang Andi dengan wajah sumringah.
Andi bercita-cita menjadi mubaligh, agar niatnya menyebarkan syiar Islam dapat terlaksana. Bahkan, saat ini putra keempat dari Asmadi dan Kartini telah memulainya dengan mengajar 69 santri Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) di ICM.
“Kebetulan saya diamanahi untuk mengajar tilawah, tajwid, dan hafidz. Saya berharap ini bisa menjadi modal saya untuk terus maju,” jelas Andi.
Meski setiap bulan Andi hanya mampu mengumpulkan Rp 70 ribu sampai Rp 90 ribu dari hasil mengajar TPA tetapi pria yang mengaku gemar menghafal Al-Quran ini terus berusaha untuk mengumpulkan penghasilan tersebut.
“Hasil mengajar ini saya kumpulkan agar bisa menambah untuk membayar biaya semesteran. Dalam satu semester saya harus membayar Rp 620 ribu,” tambah Andi. Meski dengan kondisi fisik terbatas, Andi Suwito pernah memenangkan lomba tilawatil Quran dan Hafdzil Qur’an tingkat Kabupaten Musi Rawas dan Kota Lubuklinggau. Hingga saat ini waktu luangnya selalu dimanfaatkan untuk terus latihan agar suatu saat jika ada kesempatan, Andi bisa tampil kembali dalam lomba tersebut.
Keinginan untuk maju telah mengalahkan keminderan yang sebelumnya sempat terus menghantui hari-hari Andi. Sebenarnya telah sejak lama Andi ingin segera meneruskan kuliah. Namun, karena terbatasnya biaya maka baru tahun ajaran 2010-2011 melanjutkan kuliah.
“Maklum saya anak keempat dari 10 bersaudara. Adik-adik saya masih membutuhkan biaya. Alhamdulillah, sedikit demi sedikit rejeki terus datang berkat bantuan teman saya, Bambang Irwan yang terus setia mengantarkan saya ke manapun. Menjaga saya, dan memberikan semangat agar saya terus kuat. Saya berharap kuliah ini bisa terus berlanjut sampai saya bisa menjadi mubaligh,” ungkapnya menutup perbincangan. (*)


    ShoutMix chat widget