Islam Bukan Pencetak Teroris

Senin, 11 Oktober 2010

Profesor dan Rektor Berkumpul di Mura

LUBUKLINGGAU–Ketua Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Islam (BKS PTIS) se- Indonesia, Edy Suandi Hamid mengatakan Perguruan Tinggi (PT) Islam merupakan kaum intelektual akademisi Islam. Hal ini ditegaskannya untuk meluruskan anggapan sebagian besar masyarakat bahwa PT Islam telah melahirkan pelaku teroris. “Pendidikan Islam bukan pendidikan yang mencetak teroris. Dan yang melakukan hal itu merupakan oknum-okum ‘sesat’ bukan dari pendidikan Islam. Dengan adanya organisasi ini kita akan menghilangkan anggapan tersebut dengan cara mensosialisasikan ajaran Islam sebenarnya ke setiap Kelompok Belajar (Pokjar),” tegas Edy kepada sejumlah wartawan di pendopoan Rumah Dinas (Rumdin) Bupati Mura, Minggu (10/10).
Dijelaskannya, ajaran Islam sejuk dan bukan menakutkan bagi setiap orang. Menurutnya jika ada orang beranggapan pendidikan islam mencetak teroris, hal yang keliru. Lanjut Edy, sebagai wadah kaum intelektual Islam, pihaknya akan berupaya menghilangkan padangan seolah-olah teroris terkait dengan ajaran Islam. Melalui ajaran Islam yang sesungguhnya, ia berharap anggapan PT Islam sebagai pencetak teroris tidak menjamur di kalangan masyarakat.
Ditambahkannya, jika dosen serta para dai menjalankan misinya melalui media dakwah dengan sesuai maka akan dapat mudah dipahami dan dimengerti masyarakat. Terlebih yang menyampaikannya ajaran tersebut merupakan kaum intelektual sehingga dapat mudah dicerna masyarakat.
Ditanya mengenai kerjasama dengan pihak pemerintah dalam pemberantasan korupsi? Edy mengaku baru sebatas rencana dan belum dibahas secara rinci. “Nantilah kita akan bahas kembali masalah kerjasama memberantas korupsi dengan pemerintah,” katanya.
Memuji
Sementara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Badan Kerjasama PTIS (BK-PTIS) yang berlangsung Minggu (10/10) hingga Senin (11/10) merupakan kegiatan Rakernas pertama kali dilaksanakan di kabupaten se-Indonesia.Diantara mereka hadir Prof Dr Edy Suandi Hamid, MEc (Rektor UII Yogyakarta), Prof Dr Saifullah Wiradipradja,SH,LLM (Rektor Universitas Islam Bandung), Prof Dr Suyanto (Rektor Universitas Buya Hamka Jakarta), Prof Dr Laode Kamaludin (Rektor Universitas Islam Sultan Agung Semarang), Prof Dr Detri Karya,SE,MA (Rektor Universitas Islam Riau).
Kemudian Prof Dr Muhammad Nasir Hamzah (Rektor Universitas Muslim Indonesia Makasar), Prof Dr Masyitoh (Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta), Prof Dr Firdaus Rivai,MSc (Rektor Univ Baiturahman Padang), Prof Dr Hamid, MSc (Rektor Univ Muhammadiyah Yogyakarta), Prof Dr Hairil (Rektor Universitas Muhamaiyah Bengkulu), Drs Ta,ruf Matu, MPd (Purek Univ Muhammadiyah Palu),Drs Agussani,MAP (Rektor Univ Muhammadiyah Sumut).
Ketua Umum BK PTIS Prod Dr Edy Suandi Hamid, MEc mengatakan Rakernas di Pendopo Rumah Dinas Bupati Mura sekitar pukul 15.00 WIB mengatakan, dalam sejarahnya baru kali ini Rakernas BK PTIS diadakan di kabupaten.
“Baru kali ini di kabupaten, karena sebelum-sebelumnya kita adakan di universitas,” kata Prof Edy Suandi Hamid.
Di hadapan Bupati Ridwan Mukti, dia sempat memuji kepemimpinan Ridwan Mukti dalam memimpin daerah maupun di berbagai bidang lainnya. Menurut Rektor UII Yogyakarta ini, seharusnya Ridwan Mukti bukan kelas bupati lagi, tapi lebih dari itu.
Sementara Ridwan Mukti sempat mengaku takjub dengan kedatangan para profesor-profesor ini di Mura. “Dari tadi pagi hujan turun terus-menerus, tapi sontak terhenti karena puluhan profesor datang ke Mura. Sekali lagi, selamat datang di Mura,” kata Ridwan Mukti juga Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Islam Indonesia.
Ridwan Mukti menjelaskan lebih rinci mengenai Mura yang memiliki luas 1,2 juta hektar, lebih luas dari Provinsi Gorontalo dan Provinsi Bengkulu, diapit tiga provinsi, dengan masyarakatnya 50 persen berasal dari suku Jawa. “Mudah-mudahan daerah ini bisa dimekarkan menjadi provinsi,” katanya.
Terkait dengan pembahasan dalam rakernas, Prof Edy Suandi Hamid menjelaskan rakernas kali ini menyoroti banyaknya akreditasi perguruan tinggi di Indonesia yang mengalami penurunan, termasuk masalah-masalah politik, terorisme dan internasional kekinian.
“Penurunan akreditasi ini menjadi pekerjaan kita. Rakernas akan membentuk kelompok kerja (pokja), termasuk untuk menyoroti banyak isu saat ini, katakanlah seperti terorisme apa pandangan BK PTIS. Masalah internasional, seperti pelecehan bangsa lain terhadap kita, termasuk gagalnya Pak SBY ke Belanda, ada apa dengan ini?” begitu Prof Edy Suandi.
Rombongan para rektor dan profesor ini sebelumnya dijemput Sekda Sulaiman Kohar di Bandara Silampari, Mura, disambut tarian tradisionil. Rombongan juga dihibur Tanjidor Mudaria Sungai Pinang, Kecamatan Muara Lakiatan, pimpinan M Nasir Ujud.(10/Rls)


    ShoutMix chat widget