Empat Hari Pameran Menjual 300 Eks Buku

Keinginan menulis sejak duduk di bangku MTs, akhirnya membawa Ferry Irawan AM (36), penulis dari Kota Lubuklinggau menuju gerbang kesuksesan. Terbukti saat mengikuti pameran Linggau Expo di Lapangan Merdeka, buku karyanya terjual hingga ratusan eksemplar. Berikut laporannya.

Leo Mura, Pasar Permiri

DITENGAH keramaian malam penutupan Linggau Expo, Rabu (20/10) yang merupakan rangkaian peringatan hari jadi Kota Lubuklinggau ke-9, wartawan mencoba menghampiri Ferry Irawan. Saat itu ia sedang asyik kesibukannya sendiri. Mengawali pembicaraan itu tepat pukul 21.00 WIB, koran ini mencoba bertanya mengapa dirinya tertarik untuk menulis? Semula ia akan langsung menjawab. Namun ucapan Ferry sempat terhenti lantaran dari kejauhan terdengar senandung lagu selamat ulang tahun dinyanyikan Komunitas Anak
Seni STKIP (KOASIS) Lubuklinggau. Ternyata lagu itu dibawakan untuk mengingat hari lahirnya Bunda Rusmana Dewi selaku pembimbing sanggar STKIP Lubuklinggau.
Usai prosesi peringatan itu, wartawan koran ini kembali mencoba angkat bicara untuk mengetahui apa yang sebenarnya membuat Ferry tertarik menjadi penulis yang membuat setiap pengunjung ingin tahu lebih jauh ulasan bahasa yang menyentuh hati setiap pembacanya.
“Saya senang menulis sejak masih MTs, dan itu pun saya hanya menulis di buku harian kala itu,” kata Ferry dijumpai di stand Forum Lingkar Pena, Rabu (20/10).
Ferry yang juga Pimpinan Ponpes Mafaza Lubuklinggau, mengaku sedikitnya ada enam buku telah diterbitkan terdiri dari buku berjudul Umang, Melawan Keterpurukan Menciptakan Kedahsyatan, Buku Tuah, satu kesalahan meraih sepuluh kebaikan. Kemudian buku Puyang Keramat, Orangnya-orang bukan orang-orang, buku Saung Naga, Mendaras Cinta dalam Perbedaan. Selanjutnya buku Ranah Sriwijaya Pelopor Nusantara, dan Jenaka Cinta Dunia Pesantren.
“November nanti ada dua buku lagi akan saya terbitkan yakni Nandai Cinta di Senja merah, dan Seribu Tahun Kemudian. Bagi pembeli buku berjudul Tuah, satu kesalahan meraih 10 kebaikan mendapat bonus MP3 lagu-lagu kompilasi ciptaan penulis. Untuk buku Saung Naga, Mendaras Cinta dalam perbedaan menceritakan sebuah roman cinta remaja dengan latar belakang runtuhnya jembatan Ulak Surung pada 2 Mei 1992,” ungkap pria kelahiran Desa Pelawe, Kecamatan BTS Ulu, 5 Juli 1974 itu.
Dikatakannya harga buku yang telah terjual selama dibuka stan berlangsung bervariasi. Buku pertama Rp 45 ribu (harga terbitan Gramedia), buku kedua Rp 44 ribu, ketiga Rp 60 ribu, keempat Rp 70 ribu, kelima Rp 68.500, dan keenam Rp 25 ribu.
Mengenai motivasi apa membuat ia ingin menulis, Ferry menjelaskan ada satu hal membuat dirinya tertarik untuk menulis. “Yaitu keinginan untuk menyampaikan pesan kepada belahan Nusantara terhadap apa yang selama ini terpendam dan belum tersampaikan oleh yang lain. Seperti halnya cerita Kerajaan Sriwijaya. Sebab selama ini banyak yang kurang faham dan tahu tentang sejarah fakta sejarah kerajaan tersebut,” ungkap suami Hj Sriatun.
Selanjutnya ia mengatakan omzet selama empat hari berlangsungnya Linggau Expo Rp 4.850.000 dengan jumlah buku terjual 300 eksemplar dengan diskon 50 persen per buku. “Buku yang terjual itu terbitan terbaru tahun 2009-2010 ini dibukukan. Untuk buku Saung Naga, Menderas Cinta Dalam Perbedaan diselesaikan selama satu bulan,” tutur bapak tiga anak di ujung pembicaraan. (*)


    ShoutMix chat widget