Kupon Bertambah Setelah Diberi Tukang Ojek

Pasca dibatalkannya pemberian kupon berhadiah oleh Walikota Lubuklinggau, Riduan Effendi saat jalan santai di Lapangan Merdeka, Jumat (8/10) lalu membuat Sari Sartika (17) siswi SMA Negeri 7, menderita batin. Mengapa bisa begitu? Berikut penuturannya.

Leo Mura, Lubuklinggau

KUPON berhadiah membawa hidup sengsara. Kalimat itu selalu terngiang di telinga siswi kelas XII SMA Negeri 7 Lubuklinggau. Dari pengakuannya kupon yang dimilikinya hanya ada empat saat mengikuti jalan santai dilaksanakan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Lubuklinggau, tiga hari lalu (Jumat 8/10).
“Kami (Siswi SMA Negeri 7 Lubuklinggau) memang diberi dua kupon untuk tiap siswa. Bahkan ada beberapa siswa memiliki kupon lebih dari saya. Jadi waktu itu saya hanya memiliki dua kupon dari sekolah,” kata Tika, sapaan akrab gadis kelahiran Lubuklinggau, 10 Februari 1993 kepada wartawan koran ini, Senin (11/10).
Lantas bagaimana ia bisa mendapatkan empat kupon jika di sekolah hanya diberi dua kupon? Ia menceritakan kupon yang ia peroleh itu merupakan pemberian tukang ojek kepada dirinya ketika hendak menuju lokasi pelatihan jalan santai kala itu. “Setiap saya mau bepergian selalu naik ojek. Entah kenapa saat itu pas saya mau mengikuti jalan santai, tukang ojek itu memberikan saya dua kupon seraya berkata ‘mungkin ini rezeki untuk kamu dek’,” tutur Tika yang gemar olah raga sambil memperagakan saat tukang ojek itu memberikan kupon keberuntungan untuk dirinya.
Ia mengaku sejak menerima kupon dari tukang ojek itu membuat dirinya selalu kepikiran, dan bahkan pada saat proses pengundian berlangsung ia merasa yakin jika akan mendapatkan satu unit motor. “Saya ingat, saat itu Bu Anna (Kadisdik Lubuklinggau, red) yang mengacak kupon tersebut. Ketika Bu Ana menyebutkan nomornya undian tatkala itu, sontak saya terkejut kendati nomor yang disebutkan sesuai dengan nomor yang saya miliki ‘019422’ dan saya langsung beteriak histeris. Sebab nomor itu merupakan nomor yang diberikan tukang ojek kepada saya,” ungkap Tika saat itu mengenakan baju warna kuning bermotif dengan penuh rasa penyesalan. Karena membawa empat kupon ke atas panggung.
Ia membenarkan saat sebelumnya Walikota telah memperingati sebelum dilakukan pengundian untuk tidak memiliki kupon banyak. “Salah jika saya telah memberikan semua kupon yang saya miliki,” ujarnya. Padahal masih banyak orang yang memiliki kupon lebih dari dirinya. Sebab pagi sebelum dilaksanakannya proses pengundian, banyak kupon yang dihamburkan oleh panitia di lapangan sehingga sebagian peserta mengambil kupon yang dihamburkan tersebut. “Untuk tingkat kejujuran saya telah berlaku jujur atas semuanya, dibandingkan dengan yang lainya. Sebab ada sebagian yang mendapatkan kupon banyak ketika dipanggil mereka langsung membuang kupon tersebut,” imbuhnya.
Lalu, bangaimana dengan perasaannya setelah dimentahkan Walikota Lubuklinggau kala itu? “Ya, saya merasa malu dengan teman-teman, apalagi dengan teman di sekolah karena selalu diejek teman,” ungkapnya dengan nada kesal.
Sementara itu, saudara kandungnya, Mukhlis Bj mengatakan sangat sebal atas tindakan tersebut. Sebab tidak ada aturan dalam membatalkan pemberian satu unit sepeda motor tersebut. “Saya mohon hal itu dapat dipertimbangkan kembali oleh Walikota Lubuklinggau. Banyak atau tidaknya kupon itu bukan kesalahan dari peserta melainkan dari panitia. Persoalan ini telah saya sampaikan ke Kadisdik Kota Lubuklinggau, Septiana Zuraida namun hal itu tidak ada respon sama sekali, dan bahkan ia mengatakan itu merupakan rezeki masing-masing,” tukasnya dengan nada kesal.
Di lain tempat, Kadisdik Kota Lubuklinggau, Septiana Zuraida mengatakan sebelum dilakukan proses pengacakan tersebut Walikota Lubuklinggau telah memperingatkan bagi peserta yang memiliki kupon lebih dari satu maka dianggap batal. “Sedangkan dia lebih dari satu kupon (Banyak), maka dibatalkan. Memang sebelum dicabut sudah diingatkan oleh Walikota Lubuklinggau bagi yang memiliki kupon banyak merupakan orang yang serakah dan tamak, dan itu pemberian motor tersebut dibatalkan,” tegas Ny Anna, sapaan manja perempuan ini.
Dan yang menerima satu unit sepeda motor itu merupakan orang yang tidak punya, lain halnya dengan Sari Sartika yang memiliki kupon lebih dari satu.
“Ibaratnya makanan yang sudah masuk ke mulut saja tidak masuk, jika itu bukan rezeki kita,” ucap Ny Anna berfilosofi.(*)


    ShoutMix chat widget