Jabatan Pertama Sebagai Komando Kewilayahan

Dandim 0406/Mura, Letkol (Inf) Niko Fahrizal mengawali karir militer di satuan tempur Batalyon Infantri Lintas Udara 328 Kostrad. Menjadi Dandim 0406/Mura merupakan jabatan pertama komando kewilayahan. Berikut laporanya.

Muhammad Yasin, Lubuk Tanjung

MENDAPATKAN amanah sebagai komando kewilayahan dalam hal ini Dandim 0406/Mura, menjadi tantangan bagi Niko Fahrizal. Pasalnya jebolan AKABRI tahun 1991 itu mengawali karirnya disatuan tempur.
Setelah dilantik menjadi menjadi Dandim 0406/Mura, pria kelahiran Banda Aceh, 10 September 1968 ini berpikir untuk meningkatkan profesional prajurit.
“Saya berpikir bagaimana bisa menyiapkan prajurit-prajurit yang ada di Kodim 0406/Mura agar menjadi profesional. Disamping itu, bagaimana membangun wilayah pertahanan agar kita bisa menghadapai berbagai macam kemungkinan apapun baik dari dalam maupun dari luar. Saya mesti membangun sikap mental dan monumental. Sikap mental berarti prajuritnya sendiri baik itu postur maupun dari segi kemampuan secara peorangan Sedangkan monumental itu bangunan-bangunan yang ada kita pelihara dan kalau bisa kita tingkatkan,” suami Eva Noviana, yang ditemui wartawan koran ini di Makodim 0406/Mura di Kelurahan Lubuk Tanjung, Kecamatan Lubuklinggau Barat I, kemarin (22/9).
Ayah dari Aufa Nikolah (11) dan Farel Fania (7) menegaskan selama masa damai pihaknya membantu Pemkot
Lubuklinggau dan Pemkab Musi Rawas. “Kami membantu Pemda dan juga membatu tugas Polisi dalam hal Kamtibmas,” ucap Wakil Komandan Batalion Infantri Reder 323 Kostrad.
Mantan Dandodik Puntang, Lahat 2006-2007 ini menambahkan, selaku kepala komando wilayah dirinya harus mengetahui perkembangan situasi wilayahnya. “Setiap hari Babinsa wajib melaporkan situasi di wilayah tugasnya,” kata pria yang pernah menduduki jabatan Komando Batalyon Infantri 200 Reader, Palembang 2008-2009.
Menurutnya, pertumbahan ekonomi di Kota Lubuklinggau dan Kabupaten Mura sangat pesat karena didukung letak geografis sangat strategis berada di tiga lintasan yakni dari Provinsi Bengkulu, Jambi dan Palembang.
“Sedangkan masyarakat Kota Lubuklinggau dan Kabupaten Mura bisa hidup berdampingan. Kita lihat di beberapa kawaan terdapat rumah ibadah selain masjid seperti gereja, vihara dan lain-lain. Kondisi ini menunjukkan masyarakatnya bisa hidup berdampingan. Warga di sini menerima pendatang, karena mereka menyadari semua itu untuk mereka sendiri,” pungkasnya.(*)


    ShoutMix chat widget