Kedisiplinan Masinis Sewaktu Bekerja

Jumat, 17 September 2010

Menjadi Ujung Tombak Keselamatan Penumpang

Mengecek kelengkapan administrasi seperti laporan harian dan T 100 sembari menyiapkan peralatan menjadi salah satu kegiatan rutin masinis Kereta Api (KA), sebelum melaksanakan kerja dinas. Berikut kisahnya.

Sulis, Lubuklinggau

DALAM satu minggu, setiap masinis mendapat jatah dinas perjalanan dua sampai tiga kali. Dalam setiap kali melaksanakan dinas, mereka akan mendapat jadwal mengendalikan kereta maksimal 5 jam. Meski kelihatannya tidak begitu sulit, tapi mereka mengakui sebuah risiko besar harus siap dihadapi oleh setiap pelaku profesi ini.
Kamis, (16/9) tepatnya pukul 09.20 WIB wartawan koran ini telah berada di Stasiun KA Kota Lubuklinggau. Setidaknya 500 penumpang KA Serelo sudah memadati ruang tunggu stasiun. Sebagian ada yang sudah berada di dalam kereta. Lebih dari 50 orang yang lain, terlihat sedang menunggu sesuatu. Ternyata KA Sindang Marga dari Palembang belum sampai ke Stasiun Kota Lubuklinggau. Keterlambatan ini karena meluapnya penumpang dari Palembang yang masih juga ditambah dari stasiun-stasiun lain dilewati KA Sindang Marga.
Saya melanjutkan perjalanan menuju Griya Karya. Sebuah bangunan yang digunakan sebagai tempat istirahat masinis, kondektur dan pelayan KA. Tak berapa lama, saya sudah bertemu dengan empat masinis Kereta Api. Mereka adalah Saeko (43),
Kedisiplinan dari hal 1
Jimin (43), Sunaidi (43) dan Sugiharto (40).
“Ini kami baru persiapan untuk berangkat, makan, mandi, dan menyiapkan kelengkapan sebelum dinas,” jelas Saeko sebelum mulai wawancara.
Untuk menjadi seorang masinis, lanjut dia, seseorang harus menempuh diklat khusus. “Untuk menjadi seorang masinis, kami harus menempuh diklat di Yogyakarta. Paling cepat setiap masinis menempuh diklat tiga setengah tahun. Tapi ada juga yang menyelesaikan diklat sampai 5 tahun baru bisa menjadi masinis beneran,” terang Saeko.

Kalau diklat inti, tambah Saeko, terutama untuk mengenal teori utama perkereta apian bisa ditempuh enam bulan di Yogyakarta. Setelah itu dilanjutkan dengan praktik langsung di stasiun.
“Kalau saya, sempat menjadi asisten masinis selama 3 tahun, sekaligus memperdalam kembali praktik di Stasiun Kertapati, setelah itu tepatnya tahun 1993 baru benar-benar dipercaya sebagai masinis,” jelas Saeko.

Menggeluti profesi masinis sebagai pelayan masyarakat menjadi satu kebanggaan bagi mereka. Bahkan mereka mengakui bukan hal yang mudah untuk bisa menjadi seorang masinis. Membutuhkan kerja keras, kedisiplinan, bahkan berkorban waktu dan tenaga.

“Kalau mengenai kendala dalam setiap melakukan perjalanan, kami khawatir kalau ada pohon tumbang, atau apapun yang tanpa kita prediksi terjadi. Meskipun memang ini kuasa-Nya. Bagaimanapun, setiap sebelum melakukan perjalanan kami terus berdoa. Agar semua yang kami lakukan ini lancar. Selain itu, kami juga berharap penumpang bisa selalu bekerja sama demi kelancaran perjalanan,” terang Jimin di akhir perbincangan. (*)


    ShoutMix chat widget