Kajian Ramadhan Ciri Khas Ponpes Salafiah

Pondok Pesatren (Ponpes) Salafiah Syifaul Janan di Desa Air Satan, Kecamatan Muara Beliti, Kabupaten Musi Rawas, merupakan pesantren yang menerapkan metode klasik tetapi tetap mengenal kemajuan modernisasi. Berikut laporannya.

M Nur Kholil, Air satan
PONPES Salafiah Syifaul Janan merupakan pesantren yang benar-benar menerapkan sistim Salafiah. Tetapi santrinya tetap mengenal kemajuan modernisasi.

“Adapun ciri-ciri pesantren Salafiyah adalah pakaianya ciri khasnya bersarung, makan selalu berjamaah, masak sendiri dan tempat pemukiman juga buat sendiri,” kata Ustadz Imam Asfali, selaku Pimpinan Ponpes Syifaul Janan saat diwawancarai wartawan koran ini, Minggu (22/8).

Imam Asfali melanjutkan, pesantren Salafiah beda tidak ada sekolah formalnya di pesantren, tetapi santrinya tetap ada yang sekolah dan kuliah diluar pesantren. “Adapun biaya operasional sampai mencari nafkah pesantren ini dilakukan sendiri dari ustadz-nya (Guru, Red) sampai santrinya mereka mencari usaha masing-masing,” ungkap Imam Asfali.

Ditambahkanya ponpes Syifaul Janan walaupun menerapkan sistim salafiah tetap mengenal moderenisasi. Sebab dalam kaidah fikih Al-Mukhafazhotu bil Qhodimi Sholihi Wal Akhdu Bil Jadidi Ashlah (Memelihara nilai-nilai klasik yang baik tidak mengambil hal yang baru yang lebih baik).

“Contohnya zaman dahulu kita mengajarkan mengaji tanpa sound system, tetapi karena santrinya sekarang banyak agar lebih jelas kita harus menggunakan sound system,” jelas suami Ummi Fadhilah.

Imam Asfali menambahkan kita jangan salah mengartikan salafiah, yang mereka mengatakan salafiah sekarang mengotori salafiah lama. Serta bida’ah hingga dikhawatikan umat Islam nanti hancur. ”Padahal umat Islam itu mengajak keindahan,” tutur Imam Asfali.

Di Ponpes Syifaul Janan, santrinya di siang hari sibuk berwira usaha. Ada yang bertani, menyadap karet, dan bengkel, mereka bercampur dengan masyarakat.

“Di malam hari para santri mengikuti pelajaran di Pondok pesantren dibimbing ustadz yang berjumlah 12 orang,”ungkap Imam Asfali juga menyebutkan jumlah santri sekarang 150 orang. Sementara ponpes Syifaul Janan ini berdiri sejak Januari 2000.

Mengenai kegiatan di bulan Ramadhan 1431 Hijriah, Imam Asfali menyebutkan pengajian santri lebih padat. Dan menjadi cirri khas pesantren salaf di bulan ramadhan diadakan kajian kilatan dilaksanakan dari tanggal 1 Ramadhan sampai 20 Ramadhan harus khatam Al Quran.
“Adapun Kajian kilatan ini membacakan enam kitab diantaranya Tafsir, Riyadusholihin, Tauhid, Fiqih dan Nahu Shorof,” papar lelaki yang sering memakai sorban di lehernya.
Imam Asfali meneruskan pada 1 Januari 2000 ponpes ini berdiri dengan tempat mengaji. Selang empat tahun kemudian baru ada nama ponpes tersebut. Dan yang memberikan nama pesantren dari masayarakat Air Satan. “Awalnya hanya tiga orang saya anak dan Istri,” ceritanya.

Imam berkisah dari mengawali anak saya mengaji masayarakat disini pun berdatangan ikut mengaji karena sudah banyak mengaji warga menamakanya pesantren. Kemudian berdatangan tamu dari luar kota seperti Bengkulu, Palembang dan sebagainya untuk konsultasi, berobat dan minta nasehat sering mengatakan lingkungan di sini sejuk. Sampai 40 orang mengatakan di sini sejuk. “Oleh karena itu ponpes ini dinamakan Syifaul Janan yang artinya obat penyejuk hati,” jelas Imam Asfali.

Kembali Imam Asfali menuturkan yang memasang papan nama itu para santri ketika ia melaksanakan ibadah haji.
“Setelah saya pulang papan nama tersebut sudah dipasang oleh santri tanpa kami perintahkan. Karena masyarakat sekitar susah menyebutkan nama Syifaul Janan, warga lebih banyak mengatakan pondok pesantren Air Satan. Sampai sekarang nama itu lebih dikenal masyarakat,” ucap Imam Asfali. (*)


    ShoutMix chat widget