Ramadhan Bulan Suci untuk Mempertebal Keimanan

Puasa bukan sekedar kewajiban tahunan dengan menahan lapar dan berbuka. Puasa lebih kepada kewajiban yang mampu menggugah moral dan kepedulian sosial kemasyarakatan. Lantas, apa tanggapan Muhammad Said S.Th, pengasuk rubrik Anda Bertanya Kami Menjawab (ABKM) Linggau Pos mengenai puasa?

Santoso, Lubuklinggau

MENURUT Said, sapaan lelaki ini, bulan Ramadhan merupakan bulan istimewa, bulan penuh berkah, dan segala amal baik umat-Nya di dunia akan dibalas berlipat ganda oleh Tuhan.

Ia menilai semangat untuk menjalankan ibadah puasa, mampu membentuk karakter untuk memperbanyak amal kebajikan maupun amal ibadah spiritual dalam diri. Selain itu, bulan puasa merupakan bulan yang dapat digunakan untuk membuat mental menjadi tetap konsisten dan istiqamah dalam sebelas bulan berikutnya.

Dia meneruskan, puasa merupakan kewajiban yang universal, dan sebagai orang yang beragama Islam, maka perlu diyakini bahwa puasa merupakan kewajiban yang disyariatkan untuk setiap muslim/mukmin, seperti layaknya sebagai umat dari Nabi Muhammad SAW. Selain itu puasa merupakan satu cara untuk mendidik individu dan masyarakat untuk tetap mengontrol keinginan dan kesenangan dalam dirinya walaupun diperbolehkan.

Dengan berpuasa seseorang dengan sadar akan meninggalkan makan dan minum sehingga lebih dapat menahan segala nafsu dan lebih bersabar untuk menahan emosi, walaupun mungkin terasa berat melakukannya.

“Banyak manfaat yang didapat jika berpuasa, diantaranya untuk membentuk kepribadian seseorang dan melatih kesabaran,” ujar Said ketika dibincangi wartawan koran ini di rumahnya, Jalan Nanas Baru No 61 RT 06 Kelurahan Megang, Kecamatan Lubuklinggau Utara II, Senin (9/8).

Suami Asia yang dikaruniai seorang putri bernama Fadilah menambahkan, puasa juga merupakan kewajiban yang konkret sebagai pembina suatu kebersamaan dan kasih sayang antar sesama. Selama bulan suci Ramadhan umat muslim akan diuji keimannnya dalam hal menahan napsu lapar dan dahaga.

Lebih jauh pria kelahiran Bingin Teluk, 13 Desember 1982 memaparkan sesama orang Islam akan merasakan lapar, haus, kenyang, dan sulitnya menahan emosi dan amarah diri. Puasa dalam satu bulan, seharusnya dapat membawa dampak positif berupa rasa solidaritas dan kepedulian antar saudara, rasa kemanusiaan yang mendalam atas penderitaan sesama manusia. “Bulan puasa momen yang paling baik untuk meningkatkan keimanan. Kalau iman seseorang tidak kuat kemungkinan orang itu tidak akan berpuasa,” kata Said seraya mengaku pernah merasakan kehidupan di pesantren AS-AD Jambi selama tiga tahun.

Disisi lain, alumnus IAIN Jambi 2004 itu menceritakan sebelum menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) sempat mengajar di Pesantren Ar Risalah sejak tahun 2005 hingga 2007. Ditengah perjalanan dirinya memberikan ilmu terhadap murid Ar Risalah, tepatnya tahun 2006, Said mencoba ikut tes masuk PNS di lingkungan Departemen Agama (Sekarang Kemenag, red). “Alhamdulillah satu kali saya ikut tes langsung lulus dan ditempatkan di KUA Lubuklinggau Utara pada 2006. Lalu 2007 saya pindah tugas di KUA Lubuklinggau Barat II,” cerita Said yang kesehariannya bertugas mengurus adminstrasi pernikahan dan memberikan nasehat kepada calon pengantin sebelum melaksanakan ijab kabul. (*)


    ShoutMix chat widget