Belasan Anjal Terjaring Razia

Selasa, 24 Agustus 2010

LUBUKLINGGAU-Dinas Sosial (Dinsos) Kota Lubuklinggau, Sabtu (21/8) lalu, melakukan razia Gelandangan dan Pengemis (Gepeng) serta Anak Jalanan (Anjal) di seputaran Pasar Inpres Kota Lubuklinggau. Hasilnya, Dinsos berhasil menjaring lima Anjal, dua pengemis dan empat gelandangan.

“Ke-11 orang yang terjaring ini semua berasal dari luar Kota Lubuklinggau. lima Anjal berasal dari Tebing Tinggi, dan empat Gepeng berasal dari Desa Maur Kabupaten Musi Rawas (Mura). Lainnya ada yang dari Curup dan Kota Palembang,” jelas Kepala Dinsos Kota Lubuklinggau, Edison Jaya, kepada wartawan koran ini diruang kerjanya, Senin (23/8).

Menurutnya, pengemis dan Anjal biasanya akan terus meningkat hingga menjelang  Hari Raya Idul Fitri. Oleh sebab itulah, Dinsos akan terus melakukan razia kembali minimal tiga kali selama Ramadhan ini.

“Anjal, pengemis dan gelandangan ini banyak yang memiliki niatan untuk mencari nafkah di bulan Ramadhan, selama mereka tidak mengganggu atau melakukan tindakan pemaksaan kepada masyarakat Dinsos masih bisa memaklumi hal tersebut.  Namun, jika masyarakat menemukan Anjal atau Gepeng yang memaksa atau mengganggu ketenteraman, silahkan melapor kepada pihak yang berwajib. Ini demi ketenteraman kita bersama,” jelas Edison.

Pelanggaran ini nantinya, tambah Edison, akan ditindak sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor 16 tahun 2004 tentang Ketenteraman dan ketertiban umum. Siapapun yang melanggar ketentuan ini maka akan dijerat dengan hukuman tiga bulan penjara dan denda Rp 5 juta.

Saat ini, Dinsos belum bisa memberikan tindakan yang lebih serius dalam penanganan hal ini. Dinsos hanya sebatas memberikan pendekatan, pengertian, dan nasehat kepada mereka yang terjaring. “Setelah itu kami kembalikan lagi ke daerah mereka,” terangnya.

Pengemis, Anjal, dan Gepeng banyak berkeliaran di Kota Lubuklinggau karena mereka memiliki pemikiran bahwa Kota Lubuklinggau merupakan pusat pertemuan berbagai penduduk dari berbagai daerah sebagai kota besar kedua sekaligus kota transit. Oleh sebab itulah, pengemis menganggap Ramadhan ini, banyak penduduk dari luar kota berbelanja di Lubuklinggau, sehingga mengemis menjadi profesi menjanjikan bagi mereka.

Edison berharap, masyarakat terutama orang tua untuk memberikan satu pendidikan yang positif untuk sang anak. “Jangan sampai ada orang tua yang menyuruh anaknya untuk mengemis, atau bahkan memaksa mereka untuk mencari nafkah dengan jalan yang merugikan masa depan si anak. Seperti yang terjadi di Kelurahan Muara Enim, masih ada enam anak yang ngelem. Keenam anak ini kondisi ekonomi dan psikologinya tertekan,” pungkasnya.(Mg03


    ShoutMix chat widget