Juara Pertama Kasek Berprestasi, Wiyoto

A. Wiyoto (47) terpilih menjadi juara pertama kepala sekolah (Kasek) berprestasi tahun 2010 di Kota Lubuklinggau. Kemenangan itu bukan suatu kebanggaan bagi dirinya melainkan beban berat yang harus diemban kemanapun ia berada. Berikut laporannya.

Leo Mura, Lubuklinggau
LELAKI kelahiran Tanjung Enim, 8 November 1962 merasa terbeban dengan penghargaan disematkan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Lubuklinggau, Kamis (27/5) lalu. Ia menilai prestasi itu merupakan amanah yang harus dijaga.
"Karena itu bukan hal gampang terutama dalam penyesuaian dengan petunjuk yang ada," kata Wiyoto di ruang kerjanya, Kelurahan Tapak Lebar, Kecamatan Lubuklinggau Barat I, Senin (31/5).
Mengawali pembicaraan, alumni SMA Xaverius Palembang, sambil tersenyum menceritakan awal persiapan sebelum mengikuti pemilihan Kasek berprestasi. Ia menyebutkan terlebih dulu dirinya mesti membuat karya ilmiah. "Karya ilmiah itu saya buat sendiri dengan tema "SMA Xaverius icon Kota Lubuklinggau". Tema itu merupakan impian saya selama ini untuk menjadikan SMA Xaverius menjadi icon pendidikan di Kota Lubuklinggau, dan ide itu muncul berdasarkan pengalaman selama ini," kata Wiyoto yang merahasiakan kepanjangan A dari nama depannya.
Ia meneruskan apalagi Kota Lubuklinggau dikenal dengan kota jasa, perdagangan, dan pendidikan. Dengan demikian ia bermaksud membangun Kota Lubuklinggau melalui sektor pendidikan. "Saya mengambil tema SMA Xaverius Lubuklinggau icon pelajar di Kota Lubuklinggau itu merupakan salah satu bentuk dalam mewujudkan impian itu," kata suami Budi Ratiah.
Untuk mewujudkan impian itu, lanjut pria ramah ini, pihaknya akan memulai dari delapan standar pendidikan nasional telah ditetapkan yakni standar kompetensi kelulusan, standar isi, standar pendidik dan tenaga kerja, standar proses, standar sarana dan prasarana, standar biaya, standar pengelolaan, dan standar penilaian pendidikan. "Hal itu yang harus diutamakan dalam mewujudkannya," ujar bapak empat anak.
Untuk itu, selama mengikuti pemilihan guru, kasek, dan pengawas berprestasi dia banyak mendapatkan pengalaman, terutama dalam hal pengetahuan tentang kepemimpinan di lingkungan sekolah. Artinya kasek dituntut untuk terus belajar dan belajar. "Kemenangan itu diperuntukkan SMA Xaverius dan keluarga. Saya mengikuti pemilihan sesuai dengan kriteria dan prosedur yang berlaku, mulai dari materi portofolio hingga wawancara," tutur alumni Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Sanata Darma Yogyakarta.
Pemilik motto "berikan yang terbaik dalam segala hal" mengatakan materi Portofolio merupakan tolak ukur dalam menentukan kemenangan. "Sebab portofolio itu berisikan tentang pengalaman, pelatihan dan hasil yang telah dicapai oleh anak didik dan guru. Atas pencapaian itu dapat mengisi standar yang dimaksud," kata alumni SMP Xaverius Imanuel Tanjung Enim.
Disinggung mengenai persiapan dalam menghadapi pemilihan guru dan kasek berprestasi tingkat provinsi, lelaki yang akrab disapa Yoto mengaku, tak memiliki target ditingkat provinsi nantinya. Namun ia akan terus tetap belajar mulai dari administrasi hingga ilmu teknologi dan informasi.
"Menurut cerita di tingkat provinsi kelak dalam mengikuti penyeleksian itu kita benar-benar dituntut dapat menguasai segala bidang. Selama ini kita hanya bisa memerintah saja," paparnya.
Sementara itu, SMA Xaverius Lubuklinggau saat ini hampir mendekati delapan standar nasional, atau 80 persen telah mendekati. Hal itu terbukti dari Sumber Daya Manusia (SDM) sudah baik, sarana dan prasara hingga standar kompetensi kelulusan. "Kita tetap upayakan terutama dalam meningkatkan mutu pendidikan. Akan tetapi hal itu butuh proses dan waktu yang panjang," jelasnya.(*)


    ShoutMix chat widget