MUSI RAWAS–Pengamat politik Universitas Sriwijaya (Unsri), Ardiyan Saptawan mengatakan, kemenangan sementara pasangan H Ridwan Mukti-H Hendra Gunawan (HM-HG) dalam Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Musi Rawas, sangat wajar. Sebab menurut dosen Pasca Sarjana Unsri ini, peluang Calon Bupati (Cabup) incumbent Ridwan Mukti untuk menang cukup besar.
“Saya rasa memang begitu hasilnya, karena selama lima tahun ini Ridwan Mukti sudah dikenal masyarakat. Apalagi selama menjabat Bupati menunjukan hal yang terbaik,” kata Ardiyan Saptawan kepada wartawan koran ini, Senin (7/6).
Dijelaskan Ardiyan Saptawan, pada umumnya masyarakat Indonesia tergolong masyarakat konvensional. Artinya masyarakat lebih mencari yang aman, tidak mau berspekulasi lima tahun kedepan dengan memilih Bupati selain incumbent. “Jadi daripada spekulasi lebih baik mereka memilih yang lama (Incumbent),” ucapnya.
Selain itu dikatakan Ardiyan, bagi kandidat selain incumbent sangat sulit dan perlu perjuangan ekstra untuk memenangkan Pemilukada. “Karena mereka sendiri (Calon selain incumbent) kurang dikenal secara merata, ini terjadi di seluruh Kabupaten/Kota di Indonesia. Dengan kondisi seperti ini mereka membutuhkan biaya yang tinggi, kalau kurang biaya sangat sulit. Sebagai contoh kalau dalam pertandingan sepakbola, incumbent merupakan tuan rumah yang memiliki banyak suporter,” jelas Ardiyan.
Dikatakan Ardiyan, dari hasil pengamatan pelaksanaan Pemilukada di Indonesia, peluang incumbent untuk menang dapat dipastikan minimal 50 persen. Karena hampir rata-rata popularitas Cabup incumbent sudah dikenal di kalangan masyarakat.
“Apalagi kalau dalam waktu lima tahun incumbent banyak mendatangi ke desa-desa, otomatis dia sudah banyak dikenal orang. Dari sinilah kemampuan incumbent sudah bisa dilihat masyarakat, sementara yang lain belum begitu kelihatan,” terang Ardiyan.
Ditambahkan Ardiyan, di Indonesia ada tiga kelompok tipe pemilih dalam pelaksanaan Pemilukada. Kelompok pertama tradisional poters yakni orang-orang yang memilih karena faktor kedekatan, baik karena daerah, kerabat atau teman. Lalu rasional poters, pemilih yang betul-betul memperhatikan prestasi orang yang akan dipilihnya. “Untuk rasional poters biasanya sedikit di desa-desa, biasanya ada di kota. Kalau di Kabupaten Musi Rawas mungkin tidak ada karena posisinya sudah berada di pinggiran. Kelompok ke tiga yakni swinging poters ini adalah pemilih yang terpengaruh melihat trend kira-kira kemana ikut-ikutan,” ucap Ardiyan.
Dikatakan Ardiyan, untuk wilayah pedesaan biasanya masyarakat cenderung masuk kelompok tradisional poters, dengan persentase minimal 80 persen. “Jadi kalau kandidat tidak ada basis massa di desa, sangat sulit untuk menang. Nah ini tadi karena incumbent sudah memiliki basis massa lima tahun jadi cukup kuat. Apalagi kalau di desa loyalitas masyarakat cukup tinggi, jadi yang rasional potersnya sedikit sekali begitu juga kelompok swinging poters,” pungkasnya. (03)


    ShoutMix chat widget