LUBUKLINGGAU– Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Lubuklinggau, Septiana Zuraida mengatakan, kualitas pendidikan merupakan proses utama dalam pengembangan mutu pendidikan di Kota Lubuklinggau. Untuk itu Space control orang tua di rumah sangat mendominasi dalam perkembangan kualitas anak.
Hal itu disampaikan Ny Anna Riduan, sapaan Kadisdik Lubuklinggau usai upacara Hardiknas di Lapangan Tembak Perbakin Kayu Ara, Lubuklinggau Barat I, Senin (3/5).
"Untuk itu Space control orang tua di rumah sangat mendominasi dalam perkembangan kualitas anak, jika kualitas pendidikan baik maka mutu pendidikan juga akan membaik. Sebab kualitas yang berjalan dengan kuantitas akan menghasilkan mutu yang yang baik,"ungkap Septiana Zuraidah.
Secara filosofisnya, lanjut Ny Anna, berikan kesempatan dan kebebasan kepada anak didik untuk mengembangkan diri, namun dalam proses pengembangan tersebut terdapat hal-hal yang diluar jalur kebenaran maka pendidik wajib mengingatkan sang anak. "Dalam konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara, sang anak harus diperlakukan dengan penuh kasih sayang (love and affection), keikhlasan (sincerely), kejujuran (honesty), keagamaan (spiritual) dan dalam suasana kekeluargaan (family atmosphere). Dalam hal ini pendidik (guru dan dosen) menempatkan diri bukan sebagai seorang pegawai yang mengajar dengan sistem penjadwalan waktu yang ketat,
namun guru maupun dosen menempatkan diri sebagai orang tua yang sedang membimbing dan mengasuh anaknya," papar Ny Anna.
Kemudian, lanjut dia, mendorong dan mengedepankan peserta didik seraya membekalinya dengan percaya diri. Pendidikan seperti inilah yang dikenal dengan Sistem Among. Pendidik sebagai Pamong. Sistem among dan para pamong inilah yang pada saat ini mulai pudar dalam pendidikan nasional. "Kita mengharapkan agar orang tua dapat memberi motivasi kepada anak untuk dapat mengikuti pelajaran tambahan, atau ikuti les diluar. Sebab guru hanya mempasilitasi anak hanya pada jam sekolah, untuk diluar sekolah itu tanggung jawab orang tua anak. Maka dari itu peran orang tua sangat mendominasi," jelasnya.
Mengenai hasil Ujian Nasional (UN) yang banyak gagal pada mata pelajaran bahasa Indonesia, Ny Anna mengatakan, itu disebabkan kurangnya percaya diri dan rasa memiliki akan bahasa itu sendiri. Sebab, guru itu terbatas apalagi untuk sekolah negeri, dan hal itu kembali kepada individu anak masing-masing. "Maka kesinambungan antara orang tua dan bimbingan konsling terbatas, artinya orang tua harus pro aktif, jangan sampai menyalahkan guru, setiap adanya kegagalan anak didik,"ujarnya.
Untuk itu, lebih baik lulus sedikit semuanya bekerja dari pada lulus banyak namun banyak yang menjadi pengangguran. Dan bagi siswa yang tidak lulus juga ada ujian ulangan yang akan dilakukan Senin (10/5) nanti. Mengenai ijazah untuk siswa yang gagal, itu tidak ada perbedaan ijazah seperti tahun-tahun sebelumnya, seperti ijazah paket C. "Dibawah kepemimpinan saya tidak akan ada hal seperti itu, dan ijazah anak untuk saat ini belum dibagikan, kita masih menunggu hasil ujian siswa yang mengulang," jelas Ny Anna. (16)


    ShoutMix chat widget