Foto Kholil/Linggau Pos
KLARIFIKASI : Pertemuan antara petani, PPTM dan Konsultan Agrim Pertamina membahas klarifikasi Budidaya Belut, Jumat (14/5).






MUSI RAWAS– Paguyuban Patra Tani Modern (PPTM) dengan Konsultan Agrobisnis (Agrim) Pertamina, Jumat (14/5) mengadakan pertemuan guna mengklarifikasi masalah pembibitan budidaya belut.
Dalam pertemuan kemarin, sempat terjadi ketegangan antara kelompok tani yang merasa dirugikan, dengan pihak Konsultan Agrim Pertamina.
Saat dialog kemarin, salah seorang mitra PPTM, menanyakan kepada Ketua PPTM, Ifwan Setia Budi mengenai penjelasan pendanaan kelompok tani. Namun Ifwan, tidak bisa menjelaskannya dengan alasan pendanaan berasal dari pihak Pertamina.
Ifwan menambahkan, mengenai keresahan para petani masalah bibit, dikatakannya sampai sekarang belum ada pengedropan dari pihak Pertamina. “Karena setiap pertemuan dengan petani kami selaku ketua panguyuban tidak ada pernyataan tertulis dari pihak Agrim, hanya secara lisan saja. Jadi tidak ada jawaban yang menguatkan untuk menjelaskan kendala tersebut terhadap petani,” kata Ifwan.
Sementara itu, Ketua Agrim, Barnas melalui Staf Bagian Pengembangan Kapasitas, Doli Reza mengatakan permasalahan yang terjadi timbul karena adanya komunikasi yang terputus. Sebetulnya program pengadaan bibit belut masih berjalan dan belum masuk jatuh tempo. “Ataupun wilayah dalam perjanjian,” ujar Doli.
Ia menambakan masih bayak jalan keluar untuk menyelesaikan masalah teknik pendistribusian bibit. Sejak awal perjanjian, pembeli akan distribusikan dari Singapura ke Surabaya lalu ke Sumsel. Karena jarak yang cukup jauh, sehingga banyak bibit yang mati.
Otomatis ada pengurangan bibit ke mitra-mitra dan mencoba mencari sumber bibit lain yakni oleh bayer. “Makanya saat ini terkendala dan memakan waktu panjang. Seharusnya bulan 4 sudah masuk semua di Lubuklinggau. Karena kendala banyak yang mati jadi memakan waktu lebih lama,” ucap Doli.
Diakui Doli, untuk permasalah tersebut pihaknya sudah memikirkan jalan keluarnya. Solusi yang akan diambil mencoba memindahkan karantina Surabaya ke karantina Jambi. Dari karantina Jambi selanjutnya akan disalurkan ke mitra-mitra di Lubuklinggau dan Musi Rawas. Dengan pola ini kemungkinan tingkat kematian bibit tidak lebih dari 20 persen. “Masalah ini tidak pernah sampai ke mitra. Nah disitulah pokok persoalannya,” kata Doli.
Ditambahkan Doli, sebenarnya kemarin malam, (Kamis,13/5), bibit sudah datang. Karena ada sedikit kedala di lapangan sehingga tidak siap di distribusikan ke Curup. Pendistribusian dilakukan secara bergelombang tidak serentak. “Dalam artian bergelombang misalnya satu kelompok, terus sepuluh kodi, komunikasinya saja tidak berjalan dan tidak sampai ke petani,” sambungnya.
Kalau masalah kerugian, diakui Doli, sejauh ini belum bisa dipastikan. Karena ini dana yang dikucurkan dari pihak Pertamina. “Kalau masalah kerugian seharusnya dari pihak Petamina. Kalau kolam itu satu kelompok juta untuk media kalau dikalikan 30 kelompok, sudah berapa misalkan satu kelompok rugi 1 juta, petani itu rugi waktu moral dan energi,” pungkasnya.(05)


    ShoutMix chat widget