foto Leo Mura/Linggau Pos
FOTO BERSAMA : Kepala SMA Al-Ikhlas foto bersama staf dan dewan guru di depan kantor SMA Al-Ikhlas Lubuklinggau, Jumat (30/4).


Melihat Kiprah SMA Al-Ikhlas Lubuklinggau

Sang pendiri sekaligus ketua yayasan pendidikan Al-Ikhlas (Alm) H M Syueb Tamat sejak mendirikan Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Ikhlas bertujuan membentuk insan Islami seutuhnya yang berkualitas tinggi, beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Serta memiliki pola pikir yang cerdas dan rasional, sehingga dapat lahir pribadi yang berakhlaqul karim. Berikut laporannya.


Leo Mura, Lubuklinggau
BANYAK orang beranggapan bahwa Ponpes merupakan bengkel untuk anak-anak nakal. Lain halnya dengan Ponpes Al-Ikhlas sejak berdiri 1 November 1996, telah mengupayakan dapat menciptakan insan berakhlaqul karimah. Mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Madrasah Tsanawiyah (MTs) hingga Madrasah Aliyah (MA) sudah ada dibawah yayasan tersebut.
Ketika wartawan koran ini mengunjungi SMA Al-Ikhlas di Kelurahan Watervang, Kecamatan Lubuklinggau Timur I, Jumat (30/4), terlihat ada kegiatan sedang berlangsung di sana. Sejumlah siswa mengenakan seragam yang menarik dikomandoi satu guru pendidikan jasmani (Penjas) sibuk berlatih. Wartawan koran ini langsung bertanya dengan Kepala SMA Al-Ikhlas, Rudi Hartoyo.
Kegiatan apa ini Pak? Dengan logat Jawa yang kental bapak ini menjawab, "Oh biasa ini merupakan persiapan kita mengikuti Pekan Olahraga Pesantren (Porpes)," jawab bapak kerap disapa Toyo ini.
"Inilah namanya pesantren modern, mulai dari pelajaran agama, seni, umum dan teknologi kita pelajari semua. Ini dilakukan untuk mengimbangi perkembangan zaman yang begitu pesatnya, terutama menghadapi era global yang penuh dengan teknologi canggih," tutur pria bertubuh sedang.
Sambil membenarkan pecinya, bapak itu langsung bercerita mengenai keberhasilan anak didiknya mengikuti Ujian Nasioanl (UN), dengan nilai standar 5,0 yang selama ini ditakuti kalangan pelajar. "Pertama kita siapkan mental anak karena itu kunci utama menuju keberhasilan. Tanpa mental yang matang, bukan hal mustahil keberhasilan dapat diraih," ungkap Rudi Hartoyo sambil melirik Waka Kurikulum, Maryani.
Untuk, mempersiapkan mental tersebut pihaknya mengupayakan kepada anak agar dapat mengikuti pelajaran tambahan dan bimbingan belajar (Bimbel). "Semua itu dilakukan untuk menguji kemampuan anak bersangkutan. Kita juga melakukan evaluasi belajar seperti try out serta tanya jawab antar guru dan siswa di kelas," jelas Rudi Hartoyo.
Saat belajar, lanjut dia, anak tidak bisa dipaksakan sebab secara psikologis anak itu berbeda-beda. "Ada yang senang belajar dengan kesunyian dan kenyamanan tempat. Namun ada juga sebagian anak belajar hanya mendengar. Memang untuk masalah tempat di SMA Al-Ikhlas sangat memungkinkan untuk anak dalam belajar," imbuhnya.
Selain itu, pihaknya mengupayakan anak agar senantiasa fokus kepada Allah SWT dengan rajin beribadah. Menjelang persiapan ujian, lanjut dia, tidak cukup hanya memerintahkan untuk selalu belajar akan tetapi harus didukung dengan sarana dan prasarana.
"Memasuki tahun ke-13, kami terus berupaya meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan, baik dari divisi akademik, divisi pengasuhan, dan divisi sarana dan prasarana. Kemudian para santri terus diarahkan oleh tenaga pengajar yang profesional dibidangnya. Sehingga bakat santri terus berkembang dan memiliki berbagai macam dan prestasi yang patut dibanggakan setiap tahunnya. Baik dari tingkat kabupaten/kota, provinsi maupun nasional," pinta Rudi menutup perbincangan.(*)


    ShoutMix chat widget