Foto Leo Mura/Linggau Pos
ANGKAT : Ibu rumah tangga mengangkat batu bujang dari sungai Kelingi, Minggu (30/5).








Kehidupan Masyarakat di Hulu Sungai Kelingi

Demi buah hatinya, Sahada (40), warga RT 01 Kelurahan Ulak Lebar, Kecamatan Lubuklinggau Barat II, mampu melakukan pekerjaan yang sepatutnya dilakukan kaum Adam. Pasalnya ibu dari lima anak ini setiap hari harus memecahkan batu untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Bagaimana ceritanya?



Leo Mura, Ulak Lebar
LIMA tahun sudah ibu yang dikarunia lima anak ini bertahan dengan penghasilan Rp 50 ribu per hari untuk kehidupan keluarganya. "Terkadang ingin rasanya menjerit jika melihat kehidupan yang tak kunjung berubah. Ditambah lagi dengan kontrakan rumah setiap tahunnya harus dibayar," kata istri Isan dijumpai wartawan koran ini di tempat kerjanya, Minggu (30/5).
Demi menghidupi keluarganya, setiap hari ia harus bekerja untuk mengangkat batu hingga memecahkan batu. "Saya mengangkut batu dari sungai kemudian saya pecahkan tanpa menggunakan mesin pemecah. Sedangkan suami saya mengambil batu dari sungai dibantu anaknya, sebab anak saya tidak ada pekerjaan lain dan dia juga hanya tamat SD," ungkap wanita yang rambutnya sebagian sudah memutih.
Kembali wartawan koran ini bertanya, mengapa anaknya tidak disekolahkan saja? Dengan nada sedih ia menjawab, "Bukan tidak disekolahkan, akan tetapi kami tidak punya biaya untuk menyekolahkannya, untuk makan saja susah," tuturnya dengan nada pelan.
Di tempat yang sama, pengambil batu lainnya, Dayat (30) mengatakan, penghasilan mereka di sini tak tentu. Terkadang ada dan dalam satu hari itu tidak ada sama sekali. Sebab penghasilan tidak dapat ditentukan seperti usaha lain. "Selama dua tahun saya bekerja di sini, saya tidak pernah mengumpulkan uang. Pekerjaan ini sama halnya dengan buruh harian hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja," kata suami Rita Herlina.
Mengenai konsumen yang sering mengambil batu di sini, lanjut ayah dari Ahmad, biasanya PT, CV, sebab batu itu kebanyakan digunakan untuk membangun rumah, siring. Kebanyakan yang sering membeli batu disini kebanyakan orang yang ingin membangun rumah. "Untuk harga dalam penjualan ini tergantung dengan jenis batu. Untuk batu bujang dalam satu mobilnya mencapai Rp 90 ribu dan untuk batu pecah bisanya Rp 400 ribu per kubik. Dan bahkan ada juga sebagian yang membeli batu tersebut perkarung," jelasnya.
Untuk itu, dalam pengambilan batu dari sungai itu sifatnya bukan tim atau kelompok melainkan personal (Pribadi, red). Dengan menggunakan ban besar dirinya membawa batu tersebut ke pinggiran sungai. "Setiap orang yang membeli batu disini menggunakan mobil sendiri. Biasanya untuk upah muat dirinya bisa mengambil keuntungan Rp 30 ribu untuk dua orang. Dan ban bekas itu kami dapatkan dari bengkel," ungkapnya.(*)


    ShoutMix chat widget