Suka Duka Kafilah OKI Selama Mengikuti MTQ ke XXIV

Jodoh, rezeki, hidup, dan mati seseorang tidak ada yang mengetahui kecuali Allah SWT. Seperti halnya dialami kafilah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), dengan meninggalnya salah seorang official Kamtarari (41). Kesedihan itu ternyata dapat memotivasi peserta dalam mengikuti Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke XXIV tingkat Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), yang diselenggarakan di Kabupaten Musi Rawas (Mura). Berikut laporannya.


Leo Mura, Lubuklinggau
KESEDIHAN yang mendalam dirasakan kafilah Kabupaten OKI, saat mengikuti MTQ ke XXIV 2010 tingkat Provinsi Sumsel, di kawasan Agropolitan Centre (AC) Muara Beliti, Ibukota Kabupaten Mura. Siapa menduga akan kehilangan salah satu anggota secara tiba-tiba. Kata ketua kafilah OKI ketika dijumpai wartawan koran ini di Hotel Saka Kelurahan Pasar Permiri, Kecamatan Lubuklinggau Barat II, Minggu (25/4).
Dalam mengawali pembicaraannya Kepala Kesra Kabupaten OKI, Fahrudin Tauhid mengatakan, sebelum mengikuti MTQ beliau sudah sering sakit karena tugas almarhum Kamtarari tidak mengeluhkan penyakit yang dideritanya.
Selanjutnya ketua kafilah OKI ini menceritakan sebelum meninggalnya almarhum Kamtarari, selama kehidupannya dikenal sosok yang berbakat dan ambisius dalam melakukan segala hal. Baik pekerjaan kantor dan yang lainnya. Ia mencontohkan, selama mengikuti MTQ tingkat provinsi ini beliau sangat proaktif dalam memperhatikan peserta sampai membimbing peserta sebelum mengikuti lomba. "Beliau meninggal Sabtu (24/4) pukul 11.00 WIB, di ruang vavilium RS dr Sobirin Mura dan jenazah almarhum langsung diangkut ke kota asalnya, yakni Kayu Agung dengan difasilitasi Pemkab Mura," papar Fahrudin.
Ketika dia meninggal, lanjutnya lagi, peserta dan official sedang mengikuti perlombaan MTQ. Namun saat itu pihaknya sudah mengupayakan untuk melihat almarhum Kamtarari. "Dalam perjalanan ke rumah sakit, tiba-tiba ada telepon dari RS dr Sobirin, memberitahu bahwa Kamtarari telah menghembuskan napas terakhirnya," cerita Fahrudin.
Setelah mendengar berita duka tersebut, kondisi kafilah sangat tidak stabil saat itu. Namun, setelah mendapatkan arahan peserta tetap tabah dan tegar, sehingga semangat dalam mengikuti perlombaan bangkit karena tidak larut dalam kesedihan.
"Tak ada sesuatu pun buat seorang mukmin yang mampu mengingatkan betapa berharganya nilai waktu selain kematian. Tak seorang pun tahu berapa lama lagi jatah waktu pentasnya di dunia ini akan berakhir, dan tak seorang pun tahu di mana kematian akan menjemput," imbuh pria berambut ikal ini.
Selesai penutupan pada malam tadi, pihaknya akan langsung pulang ke OKI. "Pulangnya peserta ini, kami mengharapkan ada suatu kebanggaan tersendiri, terutama kemenangan untuk kafilah OKI pada MTQ kali ini. Dan insyaallah kami membawa sedikitnya empat emas," ungkap Fahrudin.(*)


    ShoutMix chat widget