Kisah Pemilik Martabak Bang Sukri

Muhammad Sukri (30) sukses menekuni bisnis martabak telur di Kota Lubuklinggau. Terbukti sejak 2003, Sukri mampu mengembangkan bisnisnya dengan membuka cabang di Kelurahan Air Kuti, Kecamatan Lubuklinggau Timur I. Bagaimana kisahnya?


Leo Mura, Taba Jemekeh
KELAHIRAN Terusan Musi 11 Desember 1980 silam itu nampak sibuk saat dijumpai di kediamannya Kelurahan Taba Jemekeh Kecamatan Lubuklingau Timur I, Rabu (14/4). Sejenak ia menghentikan aktivitasnya melayani pembeli yang ingin memesan martabak buatannya.
Bapak satu anak ini meluangkan waktu berbincang santai dengan wartawan koran ini. Selanjutnya Sukri menceritakan pahitnya hidup yang pernah dijalani. "Selama ini pernah menjadi Buruh Harian Lepas (BHL), menjual pempek, koran, ngenek mobil dan sempat ngojek selama 8 bulan. Namun tidak ada kemajuan selama saya melakoni pekerjaan
Martabak dari hal 1
tersebut," ungkap Sukri mengurai kisah hidupnya. Mengingat tidak ada perkembangan dan perubahan hidup selama ini sementara umur makin bertambah membuat suami Eva Huliza mencoba merantau ke Palembang. Selama 1,5 tahun hidup dirantau orang bapak satu anak ini belajar bagaimana cara membuat martabak di Arditia martabak Palembang.
"Nah, setelah mendapat ilmu membuat martabak yang lezat saya memberanikan diri untuk mencoba membuka usaha martabak pada 2003 di Lubuklinggau," jelas Sukri yang berperawakan sedang ini.
Awalnya Sukri mendirikan usaha tersebut di Kelurahan Megang tetapi digusur oleh anggota Sat Pol-PP dengan alasan tempat dagangannya berada di jalur penghijauan. Kemudian 2004 pindah ke Kelurahan Taba Jemekeh dengan membuat kios tersendiri. Setengan tahun kemudian martabak telur ayam itu dipesan oleh Walikota Lubuklinggau, H Riduan Effendi untuk acara pergantian tahun. Sejak itu ada peningkatan dalam penjualan martabak dari sebelumnya 50 porsi hingga 400 porsi untuk memenuhi pesanan pelanggan yang memiliki acara.
Dalam sehari Sukri bisa menjual 100 porsi martabak telur ayam dan bebek yang dibuatnya sendiri. Namun ada sedikit ganjalan di hati Sukri sewaktu usahanya mulai berjalan sempat diganggu oknum preman.
"Selama meningkatnya permintaan konsumen banyak preman minta keuntungan dari usaha itu," ucapnya mengenang. Meski sering dipalak oknum tak menyurutkan Sukri untuk terus berjualan martabak.
Saat ini konsumen yang membeli martabak yang dijual Sukri, yang juga alumni SMPN 1 Lubuklinggau, kebanyakan berasal dari semua kalangan baik ekonomi menengah kebawah ataupun atas. "Selain itu juga anak-anak dan ibu rumah tangga (IRT) sering membeli martabak pada sore hari," imbuh Sukri dengan tersenyum.
Mengenai harga martabak dalam porsinya hanya dijual Rp 8.000 per porsi untuk martabak telur ayam, dan martabak telur bebek Rp 10.000 per porsi. Biasanya dalam sehari Sukri bisa menjual 100 porsi baik martabak telur ayam maupun telur bebek. "Mengenai omzet per bulan untuk hari biasa mencapai Rp 3 juta," terangnya.(*)


    ShoutMix chat widget