Keuntungan Pedagang Berlipat Ganda

Minggu, 25 April 2010



Foto : Hetty/Linggau Pos
JILBAB : Beberapa orang ibu-ibu sedang berkunjung di salah satu stand jilbab Padang di arena MTQ ke XXIV tingkat Provinsi Sumsel di Kabupaten Mura yang dipusatkan di Agropolitan Center.




Dampak Pelaksanaan MTQ ke XXIV Tingkat Provinsi Sumsel

Pelaksanaan Musabaqoh Tilawati Quran (MTQ) XXIV tahun 2010 tingkat Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) di Kabupaten Musi Rawas (Mura), membawa dampak positif bagi sejumlah pedagang. Tidak heran kalau banyak pedagang dari daerah lain berbondong-bondong untuk mengadu nasib di Bumi Lan Serasan Sekantenan menjajahkan barang dagangannya. Berikut laporannya.


Budi Santoso, Muara Beliti
SEJAK dibukanya lomba MTQ tingkat Provinsi Sumsel, Senin (19/4) lalu, suasana Agropolitan Centre (AC) di Kecamatan Muara Beliti Kabupaten Mura berbeda dari hari-hari biasanya. Hampir setiap hari, di sekitar bundaran AC selalu dipadati masyarakat yang ingin menyaksikan stand pameran yang disediakan panitia selama pelaksanaan MTQ. Moment ini tentunya tidak disia-siakan masyarakat yang memiliki jiwa bisnis untuk menjajakan dagangannya.



Herman (35), salah seorang pedagang pakaian mengaku selama berjualan di sekitar stand Gelar Teknologi Tepat Guna (GTTG) dan Expo PNPM-MP, meraih keuntungan hampir dua kali libat dari hari biasanya. Semua barang dagangan yang dijajakannya bermotifkan nuansa Islami dengan bertuliskan MTQ ke XXIV tingkat Provinsi Sumsel di Kabupaten Mura.



"Dalam sehari rata-rata kaos yang terjual 20 lembar dengan penghasilan bersih Rp 100 ribu. Kalau saya berjualan di Palembang, sehari hanya bisa terjual lima sampai tujuh lembar itupun kalau hari Minggu,"ungkap Herman, yang mengaku berasal dari Sekip Bendung Kota Palembang, Sabtu (24/4).



Mengenai tempat tinggal saat malam hari, diakui Herman, dirinya terkadang memanfaatkan salah satu ruangan di RS Duafa. "Kalau tidur kadang-kadang di masjid dan kadang di rumah sakit. Saat tidur di rumah sakit saya harus bangun lebih pagi, karena lokasi ini (RS Duafa, red) digunakan untuk peserta lomba MTQ," akunya.
Hal senada dikatakan Roaisyah, pedagang teh poci asal Kecamatan Tugumulyo. Dikatakannya, jika musim panas ia mendapat omzet rata-rata Rp 80 ribu per hari. "Kalau dalam tiga hari terakhir dagangan saya selalu habis. Lumayan mas kalau dibanding berjualan di Tugumulyo, keuntungan berjualan di sini bisa dua kali lipat. Tapi sayangnya besok acara MTQ sudah selesai,"ucap ibu berjilbab itu.



Kemudian Lin (35), pedagang jilbab asal Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar) mengatakan, dengan penuh semangat rela datang ke Kabupaten Mura untuk memeriahkan bazaar pada pelaksanaan MTQ ke XXIV tingkat Provinsi Sumsel yang dipusatkan di Kecamatan Muara Beliti.



"Sebenarnya kami sudah hampir sebulan berada di Kota Lubuklinggau. Sebab, sebelum mengikuti bazaar di sini, kami juga mengikuti bazaar yang diadakan oleh Ikatan Keluarga Minang (IKM, red) dipusatkan di lapangan Makompi, Kelurahan Moneng Sepati Kecamatan Lubuklinggau Timur I, beberapa waktu lalu. Mengingat waktunya terlalu mepet, kami berinisiatif untuk tetap tinggal di sini (Lubuklinggau) hingga usai pelaksanaan MTQ. Kalau untuk barang-barang kami minta kirim dari Padang," jelas Lin kepada Linggau Pos di standnya.



Dikatakan Lin, barang-barang dagangannya merupakan produksi sendiri dan didatangkan langsung dari Kota Padang, Sumbar. Jadi tak heran kalau harga yang ditawarkannya sangat murah, sehingga banyak pengunjung yang meminati jilbab made in Padang. Adapun harga yang ditawarkan berkisar Rp 10 ribu hingga Rp 50 ribu untuk berbagai jenis jilbab.



"Semua barang-barang ini merupakan produksi sendiri. Berhubung kami di sini, jadi yang mengelola sementara adalah anak-anak sama tetangga di Padang. Ketika stock kami di sini menipis tinggal minta dikirim saja dari Padang. Maka dari itu, harga yang kami tawarkan sama dengan harga kami jual di Padang. Selain dari Padang, kami juga menyediakan jilbab dari Malaysia," lanjutnya.



Lin mengaku, selama membuka bazaar sehari dia bisa menjual 50 helai jilbab buatan Padang dan Malaysia. Namun, untuk omzet, Lin tak mau menjelaskannya secara rinci. Yang jelas, kata dia, omzetnya meningkat. "Tampaknya memang jilbab Padang dan Malaysia lagi booming di sini. Maka dari itu, rasanya sangat tepat jika kami menghadirkan ini," ungkapnya.



Salah seorang pengunjung bazaar mengatakan, harga-harga barang yang ditawarkan di arena bazaar memang sangat menggiurkan jika dibandingkan harga-harga barang yang ditawarkan di pusat perbelanjaan. Apalagi, menurut dia, kualitas barang pun tidak jauh beda.
"Lebih murah ya kalau beli di stand, coba kalau beli di toko Rp 70 ribu cuma dapat sehelai jilbab. Kalau di sini sudah tiga helai jilbab," katanya.(*)



    ShoutMix chat widget