MUSI RAWAS–Ternyata angka anak putus sekolah pada 2009 di Kabupaten Musi Rawas (Mura) masih cukup tinggi. Hal ini dapat dilihat dari hasil pendataan Dinas Pendidikan (Dsidik) Kabupaten Mura hingga 31 Desember 2009, tercatat ada 441 anak yang tidak melanjutkan pendidikannya.
Jumlah itu terdiri dari 394 anak putus sekolah pada sekolah negeri, dan 37 anak putus sekolah di lembaga pendidikan swasta. Angka tertinggi anak putus sekolah terjadi pada jenjang pendidikan Sekolah Dasar(SD) atau Madrasyah Ibtidaiyah (MI), yaitu mencapai 225 anak, di lembaga pendidikan negeri. Sedangkan pada SD/MI swasta hanya sembilan anak. Lalu jumlah anak putus sekolah tingkat SMP/SMPT/MTs pada sekolah negeri ada 155 siswa, dan SMP/SMPT/MTs swasta mencapai sembilan siswa. Selanjutnya anak putus sekolah tingkat SMA/MA/SMK negeri hanya 14 siswa, sedangkan SMA/MA/SMK swasta hanya tujuh siswa.
Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kabupaten Mura, Edi Iswanto melalui Kasi Statistik dan Laporan, Hartoyo saat dihubungi koran ini
Jumlah dari hal 1
membenarkan masih tingginya angka anak putus sekolah di Kabupaten Mura pada 2009, terutama tingkat SD/MI. Tingginya angka putus sekolah ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya rendahnya motivasi anak untuk sekolah, atau rendahnya motivasi orang tua untuk menyekolahkan anaknya, terutama di daerah perkebunan.
"Sebab mereka beranggapan untuk apa sekolah atau menyuruh anaknya sekolah, kalau sekedar untuk mencari uang dapat bekerja di perkebunan sawit atau karet. Jadi tanpa sekolah mereka sudah bisa mendapatkan uang,"jelas Hartoyo.
Penyebab lainnya, menurut Hartoyo, adalah faktor ekonomi. Apalagi di suatu desa misalkan hanya ada SD/MI, sedangkan SMP/SMPT/MTs tidak ada, otomatis kalau anaknya ingin melanjutkan pendidikannya harus ke luar daerah. Atau di daerah itu hanya ada SD/MI dan SMP/SMPT/MTs, tetapi SMA/MA/SMK tidak ada maka anaknya untuk masuk ke lembaga pendidikan harus ke luar daerah. Dan untuk masuk ke jenjang pendidikan itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit, sementara kondisi ekonomi atau keuangan tidak memungkinkan maka anak mereka tidak bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang lebih tinggi.
"Tetapi faktor ini persentasinya sangat kecil sekali. Karena faktor yang dominan penyebab anak putus sekolah di Kabupaten Mura adalah budaya. Karena masih banyak orangtua anak beranggapan sekolah itu tidak terlalu penting,"tambahnya.
Untuk mengurangi angka anak putus sekolah, pemerintah dalam hal ini Disdik Mura telah melakukan berbagai upaya, salah satunya memberi motivasi kepada anak dan orangtua bersama-sama pihak sekolah. "Bahkan kita bersama kepala sekolah dan guru langsung menemui anak dan orangtua anak supaya mau bersekolah. Kemudian pemerintah mencanangkan program sekolah gratis, pemberian bea siswa dan pakaian gratis melalui dana BOS dan berbagai upaya lain,"papar Hartoyo.
Disamping anak putus sekolah, jumlah anak yang mengulang atau masuk lagi ke sekolah juga tinggi. Pada 2009, angka anak yang masuk lagi ke sekolah mencapai 3896 orang, terdiri dari 3610 anak mengulang pendidikannya di lembaga pendidikan negeri dan 286 anak mengulang pendidikannya ke lembaga pendidikan swasta. Jumlah itu terdiri dari anak TK 12 orang, SD/MI negeri mencapai 3527, sedangkan SD/MI swasta hanya 21 anak. Kemudian SMP/SMPT/MTs negeri ada 62 anak, sedangkan SMP/SMPT/MTs swasta hanya satu siswa. Lalu SMA/MA/SMK negeri ada sembilan siswa, dan SMA/MA/SMK swasta hanya empat siswa.(18)


    ShoutMix chat widget