Tekad Erni Lukita Setelah Dilantik Jadi Kepala SDN 67

Berawal dari ketekunan dan keuletan selama bekerja, Erni Lukita (41) terpilih menjadi kepala SD Negeri 57 Lubuklinggau. Sebelumnya, tidak ada felling (Firasat) untuk menjadi kasek, sebab pemimpin itu tidak mudah? Setelah adu paparan visi dan misi, akhirnya dia terpilih menjadi Kepala SDN 57 Lubuklinggau. Berikut laporannya.


Leo Mura, Lubuklinggau


SEJAK dilantik (28/4) lalu, istri dari Ilyas nampak sibuk dengan aktivitasnya. Namun dalam kesibukan itu ia dikagetkan dengan datangnya wartawan koran ini. Ada apa mas? Kata Erni Lukita, saat dijumpai wartawan koran ini di ruang kerjanya di SDN 57 Kelurahan Marga Mulya, Kecamatan Lubuklinggau Selatan I, Kamis (29/4).
Kesibukan perempuan ini terhenti sejenak. Mengawali pembicaraan itu, wartawan koran ini langsung menceritakan maksud dan tujuan kedatangannya. Selanjutnya, wanita kelahiran Karang Jaya Pagar Alam, 11 September 1969 menceritakan awal sebelum terpilihnya
Akan dari hal 1
menjadi Kasek. Dengan seyum ia mengawali ceritanya. "Sebelumnya saya baru tiga tahun mengajar di SD Negeri 63. Nah, setelah itu saya diangkat ke SDN 57. Memang sebelumnya saya sudah pernah dipanggil untuk menjadi Kepala SDN 57 tersebut, tetapi saya belum begitu tertarik. Sebab untuk menjadi seorang pemimpin itu tidak mudah dan butuh pengalaman dan skill, terutama dalam membimbing anak," imbuh Erni, sapaan istri Ilyas ini.
Dulu, ungkap Erni yang mengenakan jilbab ini, untuk menjadi Kasek itu banyak kriteria yang harus dipenuhi, seperti pangkat, golongan, pengalaman dan masih banyak kriteria lain. Namun, untuk menjadi Kepala SD Negeri 57, hanya mengisi formulir dan memaparkan visi dan misi. Dan dari empat calon kepala SD Negeri 57, Erni yang terpilih.
"Untuk itu saya ingin memajukan dunia pendidikan, mencerdaskan anak bangsa serta berkipra aktif di dunia pendidikan terutama di SD Negeri 57. Kemudian untuk menyumbangkan apa yang ada, akan membangun kerjasama yang baik dengan para dewan guru dalam mewujudkan apa yang diharapkan oleh orang tua siswa dan kepala Dinas Pendidikan Kota Lubuklinggau," tutur ibu dari tiga anak ini.
Dengan perasaan senang, wanita asli Pendopo tersebut mengaku merasa terbebani dengan amanah yang diemban dan merasa bingung program apa yang harus dijalani untuk tahap pemula ini. "Untuk tahap awal saya akan menjalani program yang ada dan bekerjasama dengan para guru dan staf. sebab guru bukan bawahan, melainkan mitra kerja kita," tegasnya.
Bagi murid dan guru yang memiliki potensi akan diberikan penghargaan (Reward) dan pengembangan dalam pendidikan. "Saya berharap kepada murid dan guru dapat bekerjasama dalam mewujudkan dan menjalankan apa yang diharapkan oleh orang tua siswa serta yang diamanatkan kepada saya, tanpa dukungan dan support kita tidak akan bisa mewujudkan apa yang kita harapkan," tambah ibu dari sembilan saudara ini.(*)


    ShoutMix chat widget