*Agung Yubi Utama, Kandidat Balon Wabup Partai Golkar
Agung Yubi Utama, salah seorang kandidat bakal calon (Balon) Wakil Bupati Musi Rawas (Mura), telah menyiapkan kerangka acuan tentang konsep pembangunan jika nanti diamanahkan masyarakat untuk memimpin Kabupaten Mura lima tahun kedepan. Salah satu konsepnya itu adalah pembangunan harus berdasarkan kebutuhan masyarakat secara komprehensif.
Syamsul Muin-Musi Rawas
MESKI DPP Partai Golkar belum merilis nama-nama kandidat balon yang diusung partai tersebut, namun Agung Yubi Utama optimis dirinya akan disandingkan dengan calon incumbent Ridwan Mukti.
Jika rencana ini terwujud, maka dirinya telah menyiapkan beberapa konsep pembangunan dalam upaya mensejahterahkan masyarakat Kabupaten Mura. Salah satunya, membuat sebuah kerangka acuan pembangunan daerah yang visioner dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat Kabupaten Mura beberapa tahun kedepan.
Menurut pria kelahiran Yogyakarta, 7 November 1969 itu, konsep pembangunan juga harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat secara komprehensif dalam pengertian sebelum program tersebut dilaksanakan harus memiliki kerangka acuan yang jelas, tegas dan tidak berubah-ubah.
Agung mencontohkan, soal penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) secara keseluruhan, dalam pembuatannya harus memperhitungkan potensi masyarakat yang ada saat ini dan kedepan, angka pertumbuhan dan perpindahan penduduk, kekayaan alam dan lain-lain. Sehingga rencana tata ruang yang dihasilkan dalam praktiknya memihak kepada masyarakat dan selaras dengan kondisi lingkungan. Nah, RTRW ini dalam konsep saya seharusnya bisa bertahan untuk minimal 50 tahun kedepan, dengan harapan tidak ada lagi kesalahan peruntukan dalam membangun infrastruktur maupun pemukiman dan sebagainya.
Kemudian dalam lingkup daerah, pembangunan Mura harus dilakukan dengan perencanaan matang, dilaksanakan dengan simultan- komprehensif dan pengawasan ketat oleh semua unsur yang ada dan memiliki kapasitas untuk mengawasi jalannya pembangunan. Target dari pembangunan itu sendiri adalah meningkatkan SDM dari sisi kualitas perorangan maupun kolektif maupun pendapatan riil rakyat.
Penyediaan sarana-prasarana pendidikan formal yang berkualitas lanjutnya, Take Homepay tenaga pendidik yang diatas layak serta pembebasan biaya pendidikan merupakan beban dan tanggung jawab pemerintah. Peningkatan pendapatan riil masyarakat merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat, dimana peran pemerintah sebagai pendorong dan harus ditetapkan dalam sebuah kebijakan melalui alokasi anggaran. Sebagai daerah agraris, maka porsi pembangunan yang melibatkan langsung masyarakat pedesaan harus mendapatkan porsi dan perhatian khusus agar Multiplier Effec dari APBD dapat benar-benar meningkatkan ekonomi pedesaan yang selama ini dikenal sebagai ”Slum Area” dan selalu tangan berada dibawah.
Syarat membangun secara simultan-komprehensif, sambung suami Faurita itu, di sisi fisik adalah RTRW yang diberlakukan minimal untuk 50 tahun kedepan sebagai antisipasi perkembangan penggunaan lahan agar tepat guna dan tidak terjadi alih fungsi lahan tanpa arah, karena pasti yang akan menjadi korban dari alih fungsi tanpa arah adalah masyarakat. Dengan RTRW jangka panjang maka akan terjaga stabilitas alam secara makro, kepastian peruntukan maupun kepemilikan lahan oleh masyarakat akan menjadikan Mura sebagai satu-satunya daerah yang menerapkan kepastian peruntukan lahan jangka panjang pertama di Indonesia karena berdasarkan Undang-Undang RTRW Indonesia hanya berlaku 20 tahun.
Mewujudkan impian masyarakat Mura dalam 10 tahun kedepan bukan pekerjaan mudah karena harus mempunyai kualitas SDM masyarakat yang baik dari sisi intelektualitas, ekonomi maupun persamaan di muka hukum. “Akan menjadi mudah manakala dilakukan dengan sebuah perencanaan matang, dilaksanakan dengan simultan- komprehensif dan pengawasan ketat oleh semua unsur yang ada dan memiliki kapasitas untuk mengawasi jalannya pembangunan serta komitmen kebijakan dari pemerintah daerah. Peran dari masyarakat dalam mewujudkan impian ini adalah memiliki keinginan yang kuat untuk merubah keadaan melalui stimulus langsung ke pedesaan dalam rangka meningkatkan perputaran uang di desa serta menjadikan desa sebagai tempat impian untuk mencari nafkah,” paparnya.
Dengan meningkatnya perputaran ekonomi di desa secara langsung akan terjadi pemerataan pertumbuhan pendapatan perkapita (GDP) Murasecara riil, bukan dalam angka statistik. Karena berhasil tidaknya sebuah pembangunan maupun kepemimpinan kepala daerah akan dilihat dari kemampuan riil masyarakatnya dalam memperoleh penghasilan, bukan dari pertumbuhan belanja masyarakat. Bila berpedoman pada angka belanja masyarakat akan sesat dan menyesatkan dalam menilai kondisi riil kemampuan ekonomi mereka, karena bias jadi belanja yang dilakukan berasal dari hutang.
Sebagai tambahan, Agung mempunyai seorang istri bernama Faurita, putri keturunan Semarang dari Hj Siti Astuti dan H Andi Abdulhamid dari Bone Sulawesi Selatan.
Agung sendiri dibesarkan dalam dua adat yaitu Jawa, karena saat mengambil S1 Fakultas Ekonomi UII dan S2 Perencanaan Kota dan Daerah UGM di Yogyakarta serta Sumatera, karena selama menjadi PNS tugasnya di Sumatera Selatan ditambah dengan berbagai pengalaman baik dalam dan luar negeri telah mengasahnya menjadi sosok yang memiliki ’kepekaan hati’ dan ketegasan alam mengambil keputusan-keputusan penting terutama yang menyangkut kepentingan umum.
Kedekatannya dengan ketiga anaknya merupakan contoh kecil dari jiwa kebapakan dan mengayomi yang seharusnya dimiliki oleh setiap pejabat dan pemimpin di negeri ini tanpa harus berbasa-basi demi sebuah jabatan. Karena sesungguhnya rakyat sangat membutuhkan pemimpin yang dekat dengan mereka secara tulus.
Di lingkungan teman sejawat, sahabat dan kolega, sosok Agung dikenal sebagai orang yang terbuka, rela berkorban serta selalu mengulurkan tangan manakala dibutuhkan membuatnya memiliki nilai dan tempat tersendiri dalam pergaulan.
Salah satu prinsip bersosialisasi yang dipegang teguhnya adalah ”lebih baik saya dibohongi dari pada saya yang membohongi”. Hal ini memiliki nilai filosofis dan makna yang dalam, dan itu jugalah yang membuatnya selalu ingin berbuat lebih baik pada keluarga dan lingkungan dimana ia berada, baik dari lingkungan organisasi, birokrat, LSM, legislatif daerah hingga DPR RI.
Karena ia berprinsip menjaga silaturahim lebih berharga dari sekedar jabatan apalagi materi telah menghantarkannya dalam pergaulan yang luas dan tetap terjaga komunikasinya walau berada di lain propinsi sekalipun. Berikut petikan wawancara kami saat berkunjung ke kantor BAPPEDA Kabupaten Empat Lawang beberapa waktu lalu.
Mengenai karier PNS, dia menjadi PNS pada 1997 silam. Bila dihitung sampai sekarang berarti dia sudah menjadi abdi negara dan abdi masyarakat lebih kurang 13 tahun. Kalau soal dirinya salah satu kepala dinas termuda di Sumsel, Agung mengaku kurang begitu tahu. Kalau benar, sebagai manusia biasa wajar merasa bangga karena berhasil meraih prestasi tertentu yang didapatkan melalui sebuah perjuangan.
Hanya saja dirinya memilih strategi dan jalur dengan meningkatkan kualifikasi serta kualitas diri melalui pendidikan, kursus, seminar dll baik di dalam maupun luar negeri. “Karena saya sadar bila ingin maju maka saya harus berjuang sendiri dan restu kedua orang tua saya memiliki andil sangat besar dalam perkembangan karir, ingat bahwa salah satu jalan ridho Allah SWT kepada setiap bani Adam AS adalah melalui doa restu kedua orang tua,” ucapnya.
Namun demikian, Agung mencoba memandangnya dari sisi lain. Artinya, tanggung jawab saya menjadi semakin besar dan sesungguhnya ini merupakan sebuah cobaan bagi saya dari Allah SWT, apakah dengan itu dirinya semakin pandai bersyukur atau malah lupa daratan bahkan menjadi sombong.
Selaku orang yang saat ini sedang diuji Allah SWT dengan jabatan dan ilmu, semua harapan dan keinginan masyarakat akan dihargai dan dijadikan masukan berharga, dan amanah itu harus menjadi panduan bagi saya bila waktunya tiba kelak.
Sebagai tambahan, pendidikan terakhir Agung Yubi Utama, S2 UGM Yogyakarta (Beasiswa BAPPENAS dan Canada) dengan jabatan sekarang sebagai Kepala BAPPEDA Kabupaten Empat Lawang. Dia dikaruniai tiga orang anak, yakni M Erlangga Yubi Agfarizky, Naomi Aqeela Yubi Agfarizky, M Nugraha Yubi Agfarizky.
Visinya jika terpilih, mewujudkan masyarakat Mura yang religius, aman, tenteram, sejahtera, dan mandiri.
Sedangkan misi, meningkatkan pendapatan daerah melalui optimalisasi sumber daya mineral dan energi serta pemberdayaan pendapatan berbasis pertanian dan perkebunan, meningkatkan pembangunan infrastruktur, sarana dan prasarana untuk menunjang kegiatan sosial, pendidikan, kesehatan dan perekonomian. Kemudian menciptakan dan menjalankan tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif dan efisien serta meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat. (03)





0 komentar