Kesiapan MBI Lubuklinggau Menyambut Tahun Baru Imlek
Pergantian tahun imlek dari 2560 menuju 2561 menurut penanggalan China tinggal beberapa hari lagi. Tepatnya pada 14 Februari 2010, bersamaan pula dengan hari Valentines Day (hari kasih sayang,red). Tahun baru imlek bagi seluruh bangsa China, termasuk warga keturunan di Kota Lubuklingggau, merupakan momentum istimewa. Berikut laporannya.
Oleh: Rehanudin Akil
SUASANA berbeda terlihat di Vihara Buddha Indonesia yang terletak di Jalan Yos Sudarso, Gang Rambai, Kelurahan Taba Jemekeh Kota Lubuklinggau. Ketika koran ini menyambangi Vihara milik Majelis Buddhayana Indensia (MBI), Lubuklinggau terlihat indah dan megah. Gedung utama (Darmasala) berkapasitas 500 jamaah, di sekelilingnya bergelayut lampion besar berwarna merah.
Corak cat dinding Vihara didominasi warna kuning cerah dan bersih kian menambah suasana nyaman, berada di lingkungan rumah ibadah umat Buddha yang notabenenya mayoritas warga keturunan. Terik mata hari menerpa sebagian halaman dan lingkungan Vihara, tidak mengurangi semangat para pekerja pemasang lampion. Termasuk pula para remaja yang tergabung dalam Persaudaraan Muda-Mudi Buddhis Lubuklinggau (PMBL). “Kami sudah tiga hari turut melakukan pembersihan dan membuat dekorasi lampion,” ungkap ketua PMBL Vihara Buddha Indonesia, Chandra, turut diamini beberapa rekannya.
Diakui Chandra bahwa anggota PMBL cukup aktif melaksanakan berbagai kegiatan organisasi dan ibadah rutin mingguan, di Vihara Buddha Indonesia. Pantauan saya terlihat ada majalah dinding (mading) dan beberapa hasil kreasi lain di sekitar sekretariat PMBL. Cukup membuktikan bahwa organisasi pemuda Vihara tersebut cukup aktif dan terbina.
Usai berbincang dengan para anggota PMBL dan pekerja khusus pemasang lampion, koran ini meninggalkan Vihara terbesar di Kota Lubuklinggau itu. Tujuan berikutnya bertemu pengurus MBI Lubuklinggau. Salah satunya, Cin Lung, dalam struktur kepengurusan MBI Lubuklinggau sebagai wakil ketua. Mengetahui kehadiran kuli disket (wartawan,red), pria berkacamata yang dikenal sebagai pengusaha berbagai spare part motor, menyambut ramah. Berbagai pertanyaan seputar perayaan tahun imlek dijawabnya lancar.
“Imlek atau Sin Tjia adalah tahun baru lunar menyambut musim semi di Tiongkok. Perayaannya menjadi tradisi masyarakat Tionghoa di seluruh dunia. Tidak terkecualikan warga keturunan yang berada di Kota Lubuklinggau,” tutur Cin Lung.
Makna mendalam perayaan Sin Tjia lanjut Cin Lung, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan YME. Atas segala berkat yang diberikan di tahun lalu, sekaligus memanjatkan doa dan harapan-harapan baik di tahun yang akan dijalani.
Menurut Cin Lung, pemasangan lampion karena sangat erat hubungannya dengan Sin Tjia. Berawal dari kisah sejarah, lampion sebenarnya alat penerangan jaman dahulu di Tiongkok sekaligus simbolisasi perayaan kebahagiaan. Festival lampion pernah diperkenalkan sekitar 1300 tahun lalu, oleh pihak kekaisaran untuk merayakan Cap Go Meh. “Pada masa itu, seluruh pelosok negeri akan dipenuhi semarak lampion. Melambangkan penerangan, kemakmuran, masa depan cemerlang, kesatuan dan rezeki,” imbuh Cin Lung.
Masih menurut Cin Lung, sebagai pengurus Vihara Buddha Indonesia dalam rangka merayakan Sin Tjia. Pihaknya akan melaksanakan berbagai kegiatan antara lain, penyalaan pelita (Thiam Teng), pemasangan lampion (Ten Lung). “Serta mengajak seluruh umat se-Dharma dan simpatisan guna menghadiri acara tahun baru Imlek 2561-2010 di Vihara Buddha Indonesia,” ajak Cin Lung.
Puncak acara di Vihara Buddha Indonesia Taba Jemekeh Lubuklinggau akan terjadi pada ritual Puja Bhakti Malam, yang akan dilaksanakan Sabtu, 13 Februari 2010 (Cap Jie Gwee 30), pukul 22.00 WIB. Ritual selanjutnya, Puja Bhakti Pagi, akan dilaksanakan, Minggu 14 Februari 2010 (Cia Gwee 1) pada pukul 09.00 WIB. “Usai melakukan ritual ibadah, biasanya dilanjutkan dengan kegiatan mengunjungi kediaman Romo atau pemuka agama Buddha,” pungkas Cin Lung. (*)





0 komentar