Image Hosting
Image Hosting

*Sosok Kepala BSM Lubuklinggau, Ari Yusnairy Muslim

Kehadiran Bank Syariah Mandiri (BSM) di Kota Lubuklinggau makin menunjukkan eksistensinya sebagai lembaga keuangan berbasis syariah. Meskipun pada awal pengoperasian perekonomian domestik dan global sedang dihadang badai krisis, tetapi tidak menghalangi bank ini mencapai prestasi gemilang. Pencapaian itu tidak lepas dari tangan dingin Ari Yusnairy Muslim, Kepala BSM Lubuklinggau. Berikut penuturannya.

Rehanudin Akil, Lubuklinggau
SISTEM dan konsep mengenai bank Syariah sejak 15 tahun terakhir sangat ramai dibahas orang. Entitas kampus cukup sering melakukan berbagai kajian ilmiah, seperti seminar, workshop, simposium dan sebagainya.
Demikian halnya dengan pemberitaan baik media cetak mau pun elektronik cukup sering terbit dan ditayangkan. Kendati demikian faktanya pemahaman masyarakat kerap kali masih secara parsial dan belum utuh mengenai nikmatnya bertransaksi di bank syariah.
Kenyataan objektif tersebut menjadikan Ari Yusnairy Muslim, merasa terpanggil dan tertantang untuk kerja keras melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang praktik atau cara kerja bank syariah. Hasilnya, diakui pria berbobot 103 kg dengan tinggi badan 178 meter, sangat luar biasa menunjukkan hasil menggembirakan.

“Alhamdulillah, BSM Lubuklinggau mulai beroperasi melayani transaksi perbankan sejak 24 Desember 2008 lalu. Perkembangannya sangat baik dan menggembirakan. Indikatornya untuk produk pembiayaan mencapai 130 persen dari target yang ditetapkan manajemen BSM pusat. Sedangkan produk pendanaan terjadi over target juga kisaran 125 persen. Menariknya lagi Break Event Point (BEP) tercapai pada bulan ke-9 dari target 12 bulan. Padahal saat pertama kali beroperasi kondisi perekonomian sedang lesu. Harga karet dan sawit komoditi andalan Lubuklinggau dan Musi Rawas sangat anjlok,” papar pria yang akrab disapa Ari.
Meskipun angka pencapaian target ditetapkan manajemen BSM pusat terbilang cepat dan sukses, Ari tidak ingin jumawah (sombong). Sesuai perjalanan karirnya di BSM Palembang, semua diawali dari bawah. Mula-mula sebagai Customer Service 2002-2003, Back Office 2003-2004, Asisten Analis 2004-2006, Analis Officer 2006-2008, hingga sekarang mengemban amanah sebagai kepala BSM Lubuklinggau.

“Tentu saja tetap bersyukur dan bangga atas pencapaian prestasi. Kendati demikian tidak boleh terlena, karena mempertahankan apalagi meningkatkan prestasi kerja jauh lebih sulit. Selaku pimpinan saya tidak mau masyarakat menilai BSM Lubuklinggau hanya sekedar berlindung dibalik konsep syariah. Lebih dari itu, saya ingin masyarakat menjadi mitra (nasabah) BSM, dan benar-benar mendapatkan pelayanan dan manfaat sesuai yang diharapkan prinsip syariah,” urainya.

Lantas konkritnya apa saja yang dilakukan Ari? Lelaki berusia 32 tahun yang menyandang gelar sarjana ekonomi akuntansi, Universitas Sriwijaya (UNSRI) Palembang 2001 ini akan mengedepankan pelayanan. “Pelayanan harus dilakukan sepenuh hati dan ikhlas. Bahkan saya meminta petugas security untuk memberikan pelayanan kepada para mitra, sejak tanda lampu kendaraannya akan berbelok ke halaman parkir BSM. Makanya saya sering intip dari jendela apakah hal tersebut dilakukan atau tidak,” tandas suami Irma Lendo Astutie Hakim yang juga ayah dari Abdiel Yusarma Muslim dan Aurelia Yusafira Muslim.
Pria yang senang dengan semua aliran musik, penyuka olahraga sepeda dan traveling ini, setiap hari kerja tepatnya 15 menit sebelum operasional kantor dibuka selalu melakukan Morning Briefing (MB). Kegiatan rutin yang melibatkan seluruh personal di dalam BSM Lubuklinggau, bertujuan untuk mengatasi setiap masalah yang muncul.

“Semua karyawan harus terlibat dalam MB. Mulai dari security, driver, office boy, hingga kepala BSM Lubuklinggau harus aktif di forum MB. Pembahasan yang paling utama masalah kualitas pelayanan terhadap mitra. Namun tidak jarang persoalan dan keluhan pegawai pun menjadi bahan kajian untuk dicarikan solusinya,” tutur Ari.

Forum MB juga lanjut Ari, untuk memastikan bahwa BSM selain unggul dari sisi aneka produk perbankan syariah. Tetapi harus selalu didukung dengan pelayanan yang sesuai dengan prinsip dasar syariah. Yaitu lebih adil dan menentramkan, untuk semua entitas bisnis (usaha halal, red), serta bagi semua kelompok masyarakat.

“BSM prinsip kerjanya berbasis syariah, tetapi bukan berarti identik milik kelompok agama dan aliran kepercayaan tertentu. Melainkan untuk semua (universal), asalkan usaha atau bisnis yang dilakukan mitra tidak bertentangan prinsip dasar syariah,” pungkas Ari menutup obrolan. (*)

Image and video hosting by TinyPic

    ShoutMix chat widget