
*Gereja Khatolik Pun Lakukan Misa Sin Tjia
LUBUKLINGGAU- Guyuran hujan cukup deras disertai kondisi udara lembab tidak mengurungkan niat warga keturunan Tionghoa di Kota Lubuklinggau pesta merayakan pergantian tahun batu Imlek (Sin Tjia). Menurut Suwandi Kwee (55), seorang tokoh agama Buddha, Sabtu (13/2), perayaan tersebut penting dilakukan sebagai momentum spiritual agar di tahun baru semuanya menjadi lebih baik.
Suwandi Kwee dalam kesehariannya akrab disapa Atuan, merupakan ketua DPD Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) Lubuklinggau. Selain itu dia juga ketua Vihara Vajra Bumi Silampari. Tetapi pada malam pergantian tahun 2560 ke 2561 Imlek, bersama para penganut Kong Hucu melakukan sembahyang di Klenteng Megah Sakti Wie Teng Bio di Jalan Riau Kota Lubuklinggau.
“Saya bersama teman-teman sudah sejak pukul 18.30 WIB berada di Klenteng ini. Tujuannya melakukan sembahyang memanjatkan doa agar di tahun baru Imlek yang dikenal sebagai tahun macan logam, kami penganut Buddha khususnya mendapatkan karma baik,” tutur Atuan
Pernyataan senada juga diungkapkan Ketua Klenteng Megah Sakti Wie Teng Bio, Cia Seng Kie. Pria akrab disapa Seng Kie ini, berpakaian santai didampingi istri dan dua orang putranya, datang ke Klenteng sekitar pukul 20.00 WIB. Lazimnya penganut Kong Hucu dan agama Buddha, begitu masuk ke Vihara atau Klenteng, Seng Kie pun melaksanakan ritual sembahyang. Seusai sembahyang Seng Kie menceritakan bahwa puncak pergantian tahun baru Imlek di Klentengnya, akan diwarnai dengan pesta kembang api.
“Pesta kembang api dipercaya sebagai ritual untuk mengusir karma jahat. Sebaliknya doa pun kami lantunkan agar karma baik senantiasa menghiasi setiap langkah kami, terutama di sepanjang tahun macan logam nanti,” harap Seng Kie yang turut diamini Atuan dan Asen Sumardi.
Umat Buddha bahkan penganut Kong Hucu, lanjut Seng Kie, percaya bahwa apa-apa yang diterima manusia sekarang merupakan karma masa lalu. Kalau seseorang ditimpa kemalangan, musibah, dan kesedihan maka harus introspeksi diri pasti penderitaan tersebut akibat perbuatan atau karmanya pada masa lalu akan diampuni.
Pantauan Linggau Pos, Sabtu (13/2) sejak pukul 18.30 WIB di sejumlah Vihara dan Klenteng, walaupun cuaca kurang bersahabat karena hujan, berbagai persiapan untuk ritual dan pesta kembang api menyambut tahun baru Imlek tetap dilakukan. Seperti Vihara Buddha Indonesia milik Majelis Buddhayana Indonesia (MBI). Vihara yang terletak di Jalan Yos Sudarso, Gang Rambai, Kelurahan Taba Jemekeh, Kota Lubuklinggau ini, tidak ada pesta kembang api. Jemaah MBI hanya melakukan sembahyang pada pukul 22.00 WIB.
Sementara Vihara Vajra Bumi Silampari di Jalan Pelita, pada Sabtu (13/2) malam tampak tidak ada aktivitas ritual. Penganutnya memilih sembahyang di rumah, namun Minggu (14/2), rumah ibadah satu ini pun ramai dikunjungi para jemaahnya guna melaksanakan sembahyang.
Suasana cukup ramai terjadi di Klenteng Megah Sakti, Wie Teng Bio di Jalan Riau dan Vihara Aditya Maitreya di Jalan Maluku Kota Lubuklinggau. Selain melakukan sembahyang di kedua rumah ibadah ini melakukan pesta kembang api. Pelaksanaan pembakaran kembang api pun nyaris serentak.
Hanya Klenteng Megah Sakti lebih awal melaksanakannya, pada pukul 22.30 WIB. Baru kemudian disusul suara ledakan kembang api di Aditya Maitreya. Menariknya, ledakan kembang api di kedua rumah ibadah tersebut terjadi perbedaan cukup menonjol. Di Wie Teng Bio ledakan terjadi sangat cepat dan keras, sebaliknya di Vihara Aditya Maitreya terlihat lebih lambat. Sontak gara-gara perbedaan kecepatan ledakan kembang api, ada beberapa orang jemaat Wie Teng Bio merasa kurang puas. Bahkan ada yang langsung menelpon ke tempat dimana kembang api tersebut dibeli. Hanya protes dan rasa kurang puas itu tidak menimbulkan peristiwa yang tidak diinginkan.
Suasana berbeda pada perayaan Imlek tahun ini terjadi pada Gereja Khatolik di Jalan Garuda Kelurahan Bandung Kiri Kecamatan Lubuklinggau Barat I. Sebab, untuk pertama kalinya gereja tersebut melaksanakan ritual yang dinamakan Misa Sin Tjia. Usut punya usut ternyata salah satu orang yang menginisiasi kegiatan ini, Andri Tanzil.
Anggota DPRD Kota Lubuklinggau periode 2004-2009 dan 2009-2014 yang juga politisi dari Partai Damai Sejahtera (PDS), Andri Tanzil tidak menampik dikatakan sebagai inisiator kegiatan Misa Sin Tjia. “Benar untuk pertama kalinya penyelenggaraan Misa Sin Tjia di Greja Khatolik. Kegiatan ini berawal dari usulan anggota lingkungan Santo Yakobus dan Santa Maria. Kebetulan pula pergantian tahun baru Imlek (Sin Tjia) bertepatan dengan perayaan Valentine’s Day, harinya pun Minggu,” tutur Andri Tanzil.
Dibalik kegiatan tersebut, lanjutnya, pantas disyukuri karena semangat kebersamaan dan pluralisme telah tumbuh baik di Kota Lubuklinggau. Misa Sin Tjia, tidak mengurangi sedikit pun subtansi liturgi Gereja Khatolik. Hanya, ornamen dalam gereja dipasang lampion, kembang Mei Hua sejenis bunga Sakura, dan ada ritual pembagian buah jeruk serta angpau. Sedangkan materi khutbah dan tatacara kebaktian sepenuhnya tatacara Khatolik. Misa Sin Tjia dilaksanakan Minggu (14/2) pukul 07.00 WIB.
“Terimakasih dan puji Tuhan, saya sampaikan pada Uskup Mgr Aloysius Sudarso, keuskupan Palembang. Kemudian pemimpin gereja di Paroki Penyelenggara Ilahi, Romo Freddy Bambang Sutarno, serta semua pihak yang telah mendukung terwujudnya kegiatan Misa Sin Tjia,” pungkas Andri Tanzil.(12)





0 komentar