*Catatan Study Banding Tim Adipura Lubuklinggau ke Pekanbaru (Bagian 1)
Kota Pekanbaru, ibukota Provinsi Riau, salah satu kota di Pulau Sumatera yang mendapat piala Adipura. Bagaimana penataan kota berslogan ‘Kota Bertuah’ itu hingga meraih penghargaan dari presiden RI. Berikut laporannya.
Muhammad Yasin, Pekanbaru
PEMKOT Lubuklinggau study banding ke Kota Pekanbaru, Senin (15/2).
Rombong study banding sehari ini dipimpin Asisten II Setda Kota Lubuklinggau, Hermansyah Unib. Lima Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang ikut dalam kegiatan itu, merupakan SKPD terlibat langsung dalam tim Adipura, yakni Kepala Kantor Lingkungan Hidup (KLH), Erwin Armeidi, Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Hermansyah, Kepala Dinas Tanaman Pangan Perkebunan Kehutanan (DTPPK) Setia Budi, Kepala Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah dan Pengelolaan Pasar (DKUMKMPP), Fajarudian, Kabid Pasar Cik Ali Manap dan Kepala Kantor Satuan Polisi Pamong Praja (Kakan Sat Pol-PP), Alha Warizmi.
Berdasarkan pengamatan wartawan koran, wajar saja kalau kota yang memiliki luas wilayah lebih kurang 632,26 KM² itu sering dapat piala Adipura. Berdasarkan informasi yang dihimpun koran ini terhitung 2005 hingga 2009 terus mendapatkan piala Adipura kategori kota besar. Kelebihannya, selain bersih juga terdapat sejumlah taman kota.
Demikian juga taman pembatas jalan, ditata sedemikian rupa sehingga sedap dan indah dipandang mata. Bahkan kawasan pejalan kaki atau trotar disisakan untuk menanam pohon. Tempat untuk menanam di samping trotoar tidak begitu luas, lebarnya kira-kira 50 cm namun panjangnya hingga ke ujung jalan. Dengan begitu sepajang Jalan Sudirman yang merupakan jalan utama kota itu teduh dan sejuk.
Kelebihan lainnya adalah penataan kawasan Jalan Baypass Sukarno-Hatta. Jalan tersebut sebenarnya tidak begitu besar lebarnya kira-kira 3 meter. Namun pemerintah setempat sudah mengantisipasi jika sewaktu-waktu kota mengalami perkembangan. Sehingga jarak bangunan rumah toko (Ruko) dengan jalan cukup jauh. Di sepanjang jalan tersebut sudah banyak berdiri rumah toko (Ruko). Jarak bangunan dari as jalan 50 meter. Di sepanjang jalan itu tidak ada bangunan yang memanfaatkan Daerah Milik Jalan (DMJ). Di sisi kiri dan kanan jalan sudah ditanami sejumlah pohon penghijauan. Demikian juga pemisah jalur lalu litas sudah ditanami beberapa jenis tanaman, diantaranya jati mas, mahoni, dan pohon lainnya.
Selanjutnya mengujungi Pasar Bawah. Pasar itu merupakan pasar tradisional-modern terpadu. Uniknya, pasar tersebut tidak terlalu luas namun tertata rapi. Demikian juga akses jalan di depan pasar tergolong kecil lebarnya kurang dari empat meter. Waluapun jalanya kecil tapi tidak macet. Disamping itu di Kota Pekanbaru juga ada kampung 3R (reduce, reuse, recycle). Reduce berarti mengurangi penggunaan bahan-bahan yang bisa merusak lingkungan, Reuse sendiri berarti pemakaian kembali. Sedangkan recycle adalah mendaur ulang barang.
Istilah 3R dipopulerkan oleh Kenterian Lingkungan Hidup RI. Yang dimaksud kampung 3R adalah tempat industri rumahan kerajinan tangan yang dikelola kelompok masyarakat. Bahan baku kerajinan tangan dari barang bekas seperti bekas kemasan minyak goreng, kemasan sampo, dan lain-lain. (bersambung)





0 komentar