*Dari Pertemuan Perdana Pengurus MUI Kota Lubuklinggau
Setelah dikukuhkan beberapa waktu lalu, Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Lubuklinggau masa khidmat 2009-2014, Sabtu (16/1), menggelar pertemuan perdana. Tempatnya di sekretariat MUI, di kompleks Masjid Agung As Salam Lubuklinggau. Beberapa agenda mulai dibicarakan terkait program kerja lima tahun kedepan.
Syamsul Muin, Lubuklinggau
SEJAK terbentuknya kepengurusan MUI Kota Lubuklinggau masa khidmat 2009-2015 Oktober 2009 lalu, untuk pertama kalinya para pengurus mengadakan rapat. Tujuannya, selain untuk menyambung tali silaturrahim juga mencari formulasi yang tepat dalam upaya menyusun program kerja MUI lima tahun kedepan.
Pertemuan itu dipimpin langsung, Ketua Umum MUI Kota Lubuklinggau, H Abdullah Makcik beserta jajarannya, Ketua Dewan Penasihat MUI, H Hasan Basri Arha dan jajarannya serta pengurus masing-masing komisi.
Dalam kesempatan tersebut, Abdullah Makcik memaparkan seputar keberadaan MUI sebagai pewaris tugas-tugas para nabi (Warasatul Anbiya), pemberi fatwa (Mufti), pembimbing sekaligus pelayan umat (Ri’ayat wa khadim al ummah), gerakan Islah wa al Tajdid dan sebagai penegak amar ma’ruf lan nahi munkar.
Dia juga memperkenalkan susunan kepengurusan baru yang terdiri dari para ulama, cendikiawan, dan profesional dari berbagai disiplin ilmu.
“Dengan melihat susunan kepengurusan tersebut, saya optimis MUI Kota Lubuklinggau kedepan semakin memberikan warna (corak) tersendiri di masyarakat (umat, red),” ungkap Abdullah.
Selain Abdullah, Ketua Dewan Penasihat, H Hasan Basri Arha juga sempat memberikan masukan dan saran terkait dengan masalah pembinaan umat, khususnya di Kota Lubuklinggau.
Dia berharap kepada pengurus yang baru dibawah kepemimpinan Abdullah Makcik, MUI semakin menunjukkan kiprahnya sekaligus menghilang image bahwa MUI hanya pemberi fatwa.
Perlu diingat, lanjut mantan anggota DPRD Kabupaten Musi Rawas (Mura), tugas MUI kedepan semakin berat terutama dalam hal pembinaan umat akhir-akhir ini. Sekarang ada kecenderungan di masyarakat kita sudah sulit sekali membedakan mana agam, kebudayaan, dan adat istiadat. “Ironisnya terkadang adat lebih diutamakan daripada agama. Nah, tugas MUI lah untuk membenahi hal tersebut,” ucapnya.
Tak ketinggalan, Kakandepag Kota Lubuklinggau yang baru, H Saidi turut memberikan sambutan. Intinya, Depag sangat berharap ada kerjasama dan saling koordinasi antara lembaga-lembaga keagamaan, khususnya MUI.
Dalam kesempatan cukup terbatas itu dilakukan sesi tanya jawab dengan pengurus. Pada kesimpulan akhir, pengurus memberikan kesempatan kepada masing-masing komisi selama dua pekan kedepan untuk menyusun program kerjanya. Kemudian program tersebut disampaikan kepada pengurus inti guna dibahas lebih lanjut sebelum ditetapkan menjadi program kerja MUI lima tahun kedepan. (*)





0 komentar