BONGKAR PAKSA-Seorang petugas reparasi kunci sedang membuka paksa kunci pintu utama gedung paripurna, disaksikan sejumlah anggota dewan dan Sekda Musi Rawas

*Paripurna Nyaris Dilaksanakan di Luar Gedung
MUSI RAWAS
-Sejarah baru lahir di DPRD Musi Rawas. Betapa tidak, mungkin baru pertama kali terjadi di Indonesia seluruh pegawai sekretariat DPRD melakukan mogok kerja, mulai dari Sekretaris Dewan (Sekwan) hingga staf paling bawah.
Akibat aksi mogok kerja tersebut, agenda paripurna dewan dengan agenda penetapan Ketua DPRD Kabupaten Musi Rawas—sebelumnya tertulis penetapan jadwal pelantikan pimpinan DPRD—masa jabatan 2009-2014 nyaris tertunda.
Sebagai informasi, berdasarkan hasil rapat badan musyawarah (Banmus), Selasa (1/12) lalu, ditetapkan Rabu (2/12) kembali digelar rapat paripurna dengan agenda penetapan Ketua DPRD Kabupaten Musi Rawas masa jabatan 2009-2014.
Sungguh mencengangkan, sejak pagi hari tak satupun pegawai di Sekretariat DPRD terlihat ngantor. Semua pintu terkunci. Mulai dari ruangan Sekwan, Kabag Umum, Kabag Persidangan, Kabag Perundang-undangan hingga Kabag Keuangan.
Hanya sebatas itu? Ternyata tidak. Ruangan paripurna juga tampak terkunci rapat.
Sekitar pukul 08.30 WIB, baik anggota dewan maupun para pejabat di lingkungan Pemkab Musi Rawas yang bermaksud menghadiri paripurna terpaksa tertahan di luar gedung.
Melihat kondisi demikian, Sekda Musi Rawas, H Senen Singadilaga menginstruksikan kepada personel Pol PP untuk mengambil kunci di rumah salah seorang staf sekretariat. Alhasil, menurut laporan personel Pol PP yang ditugaskan mengambil kunci tersebut, dia tidak berhasil menemui si pemegang kunci.
Situasi pun mulai memanas. Bahkan muncul wacana untuk menggelar rapat paripurna di luar gedung, tepatnya di halaman samping ruang paripurna.
“Bagaimana kalau kita rapat di luar saja, biar diberitakan wartawan secara besar-besaran,” ujar Suryadi, Wakil Pimpinan sementara DPRD berseloroh.
Pantauan di lapangan, hampir satu setengah jam lebih anggota dewan maupun pejabat Pemkab tertahan di luar gedung. Karena tidak ada solusi, akhirnya Sekda memerintahkan personel Pol PP agar memanggil ahli reparasi kunci untuk membuka paksa kunci tersebut.
Sedikitnya tiga titik pintu yang dibongkar paksa. Masing-masing pintu masuk menuju ruang lobi gedung paripurna, kemudian pintu masuk menuju ruang utama rapat paripurna serta ruang sentral elektronik mulai dari sound system hingga alat penerangan di ruang rapat paripurna dewan.
Namun sebelum membongkar paksa kunci pintu tersebut, Sekda meminta perwakilan dari kepolisian, kejaksaan serta sejumlah anggota dewan untuk sama-sama menyaksikannya sekaligus membuat berita acara bahwa tindakan itu diambil untuk kepentingan bersama, bukan ada unsur pidana (pengrusakan).
Sekitar pukul 11.00 WIB, rapat paripurna segera dilaksanakan. Hanya saja tidak begitu lancar, karena tidak ada tenaga. Mulai dari membuat laporan absensi hingga konsumsi.
Begitu pimpina sidang membuka rapat, instruksi pun tak bisa dihindari. Substansinya macam-macam, termasuk siapa yang membacakan absensi dewan maupun surat masuk lainnya.
Untuk menghindari hujan interupsi seperti halnya rapat paripurna Senin (30/11) lalu, akhirnya Sekda Senen Sengadilaga memutuskan untuk tampil kedepan. Jadi saat itu, satu sisi dia (Senen, red) dalam kapasitas mewakili bupati, dan disisi lain sebagai Sekwan. Secara umum paripurna berjalan lancar walaupun tetap diwarnai interupsi.
Terkait aksi mogok dilakukan Sekwan beserta stafnya, Sekda mengatakan, pihaknya masih melakukan langkah-langkah persuasif. “Mungkin kami koordinasi dulu dengan Sekwan, apa sebenarnya terjadi. Kita jangan negatif thinking,” ucapnya. (03)


    ShoutMix chat widget