*Melihat Kehidupan Warga di Sekitar Suban IV
Krisis bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia, memaksa masyarakat yang telah puluhan tahun menggunakan minyak tanah , rela untuk menerima program konversi gas. Namun hal ini tidak berlaku bagi masyarakat Desa Pauh Kecamatan Rawas Ilir.
Oleh: Irhandi Kasmara
SEJAK puluhan tahun lalu, masyarakat Desa Pauh Kecamatan Rawas Ilir selalu memanfaatkan sumur Bor peninggalan zaman penjajahan Belanda. Hampir setiap hari, warga selalu menyuling minyak dari sumur bor peninggalan Belanda terletak lima kilo meter dari Desa Pauh, tepatnya di Suban Burung wilayah Kabupaten Musi Bayuasin.
“Setiap harinya kami menimba minyak mentah di bekas sumur peninggalan Belanda tersebut,”ungkap Mulyadi (30) warga Desa Pauh.
Diceritakan pria yang merangkap sebagai Hansip ini, sumur- sumur peninggalan zaman Belanda itu ditimba masyarakat baik dari Desa Pauh maupun warga Desa Suban Burung yang nota bene masuk kawasan Muba.
Namun mereka dapat berbagi mengambil hasil perut bumi tersebut tanpa ada permasalahan sejak puluhan tahun lalu.
Minyak mentah yang ditimba dari sumur-sumur peninggalan zaman Belanda itu diangap masyarakat tidak bertuan. Masyarakat bebas mengambilnya, namun kebanyakan masyarakat tidak mau karena terlalu rumit untuk mengelolanya.
Dilanjutkan Mulyadi, dari hasil menimba minyak mentah tersebut setiap hari ia bersama rekannya hanya mampu mendapatkan 60 liter minyak mentah. Kemudian diolahnya menjadi minyak tanah melalui proses penyulingan.
Penyulingan minyak mentah dilakukan untuk memisahkan minyak menjadi tiga bagian yaitu minyak bensin, minyak tanah, dan juga minyak solar.
Proses penyulingan dilakukan dengan cara memasak minyak mentah kemudian dialirkan kesebuah pipa lalu keluar minyak.
Hasil penyulingan tersabut minyak pertama keluar diyakini bensin, kedua minyak tanah kemudian solar.
“Dalam 60 liter minyak mentah yang disuling menghasilkan minyak 20 liter,” katanya.
Dilanjutkan Mulyadi, minyak-minyak tersebut dijual ke Desa Pauh dan sekitarnya. Mereka hanya menjual minyak bensin dan minyak solar sedangkan untuk minyak tanah dipakai sendiri.
Bensin yang terkumpul dari hasil penyulingan tersebut dijual dengan harga Rp 3000/liter sedangkan solar dijual Rp 2000 hingga Rp 2500/liter. Namun kualitas minyak yang didapat dengan penyulingan manual tersebut hasilnya tidaklah sebaik minyak bensin yang dikeluarkan pertamina. Sebab warnanya masih keruh sama halnya seperti minyak tanah warnanya lebih merah dari minyak tanah yang biasanya.
Pekerjaan menimba minyak di sumur bor tua ini dilakukan Mulyadi karena tidak memiliki pekerjaan lain. Selain itu ia juga hanya meneruskan usaha keluarga yang memang hasilnya tidak seberapa namun dapat memenuhi kebutuhan
“Pekerjaan ini memang cukup tinggi resikonya, sebab minyak ini mudah terbakar namun apa boleh buat karena dengan pekerjaan inilah yang dapat menafkahi keluarga ku,” kata Mulyadi.( *)


    ShoutMix chat widget