Mampu Mengapung di Kolam Seharian

Sabtu, 19 Desember 2009


*Muhadi, Manusia Aneh dari Genteng

Muhadi alias Robot (32) punya julukan Manusia Apung. Pria yang tinggal di Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, itu mampu mengambang di air selama berjam-jam.
BDUL AZIZ, Banyuwangi
TUBUH Muhadi setinggi 100-an sentimeter itu tampak mengapung di atas permukaan air kolam renang Hotel Agung Jaya Mahkota Genteng. Sesekali, lelaki yang memiliki berat sekitar 45 kilogram itu juga tampak naik turun mengikuti gerakan gelombang air.
Beberapa pengunjung tampak mengernyitkan dahinya. Bahkan, beberapa cewek yang sore itu asyik berenang, langsung menutup mata dengan telapak tangan saat melihat tubuh Muhadi terapung di atas permukaan air.
Sebagian warga lainnya terlihat bengong sambil menyaksikan adegan langka itu. Tatap mata mereka tetap mengarah ke tubuh si Robot. Muhadi tetap santai mengapung di atas permukaan air kolam, meski waktu sudah berjalan sekitar 30 menit.
Sore itu, sekitar pukul 15.30, puluhan pengunjung kolam renang memang tercengang melihat aksi Muhadi. Mereka seakan tidak percaya, Muhadi yang punya kekurangan fisik—kedua tangan dan kakinya tidak bisa bergerak normal—ternyata mampu mengapungkan tubuhnya dalam waktu lama.
Saat pengunjung terlihat waswas melihat tubuh Muhadi tenggelam ke dalam kolam, ternyata Muhadi justru terlihat santai. Dia tampak menikmati sejuknya air kolam. Seolah ingin menenangkan para pengunjung kolam, sesekali Muhadi mengisap rokok yang dijepit dengan bambu sampai habis. Buss! Asap putih langsung keluar dari mulutnya.
Keunikan Muhadi itu sebenarnya sudah berlangsung lama. Dia mampu mengapung dalam waktu lama sejak 1986. Ketika itu, usianya baru menginjak tujuh tahun. Saat kelas satu SD, 1984, putra pasangan Kasan (68) dan Mutmainah (60) itu menderita rematik.
Sakit tersebut juga disertai dengan penyakit tipus. Kombinasi dua penyakit tersebut diderita selama dua tahun. Karena keterbatasan biaya, Muhadi tidak berobat ke dokter, melainkan dukun kampung. Dua tahun kemudian, Muhadi akhirnya bisa bebas dari penyakit rematik dan tipus. Namun, bersamaan dengan itu, perkembangan tubuh Muhadi tidak bisa normal sebagaimana teman sebayanya. Kaki dan tangannya kaku dan sulit digerakkan.
Dengan kondisi ini, tentu saja dia sulit berjalan. Nah, suatu pagi pada 1986, Muhadi yang merasa sudah lama tidak mandi, diam-diam keluar dari dalam rumah. Dia nekat menuju ke arah kolam mandi. Jarak antara pintu rumah depan dan kolam mandi itu sekitar tujuh meter ke arah utara. Sedangkan kolam mandi itu berukuran tiga kali tiga meter. Begitu sampai di kolam, dia langsung menceburkan tubuhnya ke air. Dia pun menikmati air tersebut untuk membersihkan tubuhnya. Ketika asyik mandi, Muhadi merasa ada yang aneh pada dirinya. Tubuhnya ternyata tidak bisa tenggelam. Dia terus mengapung dalam waktu yang lama. Muhadi pun kaget. Namun, dia tidak berani bercerita kepada siapa pun tentang kejadian itu. Termasuk kepada kedua orang tuanya.
Baru sekitar 2006, Muhadi akhirnya tidak bisa menyembunyikan keunikan yang ada pada tubuhnya. Saat itu, ketika kaki dan tangannya semakin sulit digerakkan, dia sering membutuhkan bantuan orang untuk mandi di kolam. “Saya harus digendong kalau mau mandi,” tuturnya.
Suatu saat, sang ibu menggendongnya ke kolam. Akhirnya, sang ibu tahu bahwa tubuh Muhadi bisa mengapung di atas permukaan air. “Setelah itu, ya mulai banyak yang tahu,” kenangnya.
Suatu ketika, Mutmainnah memandikan Robot di kolam. Usai menaruh anaknya di kolam, perempuan itu melanjutkan aktivitasnya memasak di dapur. Ketika memasak, Mutmainnah lupa untuk mengentaskan tubuh anaknya. Bahkan, dia lupa kalau anaknya masih terapung di kolam sampai sore hari. Tahu kalau ibunya lupa kembali ke kolam, Muhadi ternyata diam saja. Dia justru memilih tidur lelap di atas permukaan air sampai sore hari. Kejadian ini baru diketahui saat menjelang magrib. Muhadi akhirnya berteriak minta tolong agar segera dientaskan dari kolam yang dipagari tembok setinggi 1,5 meter itu. Mendengar teriakan dari dalam kolam, orangtuanya dan warga sekitar langsung berhamburan ke kolam.
“Setelah kejadian itu, banyak orang yang tahu sampai sekarang,” tuturnya. Aksi mengapung Muhadi juga sempat dilihat oleh Direktur Rumah Sakit Nahdlatul Ulama Rogojampi dr Taufiq Hidayat. Menurut Taufiq, mengapungnya tubuh Muhadi bukan lantaran penyakit, melainkan kemampuan Muhadi menyeimbangkan tubuh di atas permukaan air.
“Kalau karena penyakit polio atau rematik, jelas bukan. Itu lebih disebabkan kemampuan keseimbangan tubuh yang tanpa sadar dimilikinya,” jelas Taufiq.(jawapos)


    ShoutMix chat widget