* Hasbi Mustofa, Penyuluh Agama Teladan

Tak pernah terbayangkan olehnya bisa menjadi wakil Provinsi Sumatera Selatan di ajang pemilihan penyuluh agama teladan tingkat nasional di Jakarta. Kendati sebelumnya harus melalui beberapa rangkaian kegiatan karena bersaing dengan peserta dari 15 kabupaten/kota se-Sumsel. Lantas, apa kiatnya sehingga berhasil mewakili provinsi Sumsel di tingkat nasional?
Oleh: Hetty Arnita
Hasbi Mustofa, pria ini berhasil menjadi wakil Provinsi Sumsel dalam pemilihan penyuluh agama teladan tingkat nasional. Meskipun gagal dalam pemilihan tersebut, namun dirinya tetap bangga bisa terpilih menjadi perwakilan dari provinsi yang berjuluk “Bumi Sriwijaya” itu. Berbagai persiapan dilakukannya, untuk mengikuti ajang tahunan ini. Mulai dari persiapan materi yang dibahas dalam penyelenggaraan pemilihan penyuluh teladan hingga mental.
“Meskipun gagal, namun saya tetap bangga dengan kepercayaan yang diberikan kepada saya. Dan kedepan saya akan terus berusaha meraih prestasi yang lebih baik lagi,” tutur penyuluh Agama Islam fungsional di Kantor Departemen Agama (Kandepag) Kota Lubuklinggau ini, kepada Linggau Pos, Selasa (8/12).
Bapak tiga anak ini mengaku, berawal dari keinginan pribadi untuk meningkatkan mutu pelayanan penyuluh agama di Kota Lubuklinggau sehingga menguatkan niatnya untuk mengikuti lomba. Dan berkat kerja kerasnya, dia berhasil menyisihkan tiga orang saingannya yang juga berasal dari kota yang sama.
“Pada waktu pemilihan tingkat Kota Lubuklinggau saya diuji bersama tiga saingan lainnya untuk ke tingkat provinsi. Alhamdulillah, berkat ridho Yang Maha Kuasa akhirnya saya dikirim ke Jakarta mewakili Sumsel,” lanjut pria kelahiran Seri Kembang (Ogan Ilir, red), 2 Agustus 1977.
Putra kedua dari empat bersaudara pasangan Mustofa dan Rusnani ini menceritakan, awalnya terjun ke dunia penyuluh karena keinginan kedua orang tuanya yang kini berada di Desa Seri Kembang Kecamatan Payaraman Kabupaten Ogan Ilir. Padahal, sewaktu kecil dia berkeinginan untuk menjadi seorang tenaga medis.
“Karena melihat basik saya sedari kecil memang berada di lingkungan religius, akhirnya orang tua menyarankan saya untuk menempuh pendidikan di bidang agama saja. Namun, “pemaksaan” itu tidak serta merta membuat saya kecewa dan mundur. Malah, saya bertekad meskipun gagal menjadi tenaga medis paling tidak istri atau anak saya yang harus dari kalangan medis. Dan ternyata semua itu dikabulkan Allah SWT,” cerita suami dari Nuravitria.
Alumni Jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI) Fakultas Dakwah IAIN Raden Fatah Palembang itu mengatakan, kedepan dirinya berusaha terus menggali apa yang diinginkan untuk menambah pengetahuan tentang materi penyuluhan agama Islam supaya diterima oleh masyarakat Kota Lubuklinggau.
“Karena saya merasa pengetahuan saya masih kurang sehingga terus membutuhkan penggalian yang mendalam lagi. Tujuannya hanya satu, supaya masyarakat Kota Lubuklinggau dapat menerima penyuluh agama ini dengan baik,” ungkap pria yang memiliki motto hari esok harus lebih baik dari hari ini.(*)


    ShoutMix chat widget