Jauh dari Pemukiman Tetapi Mudah Dijangkau

Viahara Mega Sakti Lubuklinggau sebagai tempat ibadah umat Budha di Indonesia memiliki sejarah tersendiri. Selain lokasinya strategis, rumah ibadah dibangun pada 2004 lalu itu lebih mudah dijangkau. Berikut laporannya.

B. Santoso, Lubuklinggau

SAAT wartawan koran ini menyisiri Jalan Riau Kelurahan Jawa Kanan, Kecamatan Lubuklinggau Timur II, terlihat sebuah bangunan diberi nama Vihara Mega Sakti Lubuklinggau. Rumah ibadah umat Budha ini dibangun sekitar 15 Desember 2004 dengan berbagai pertimbangan. Selain jauh dari pemukiman masyarakat umum, lokasi pembangunan Vihara Mega Sakti tidak memberatkan orang yang akan melaksankan ibadah karena berada tidak jauh dari jalan poros. “Kalau untuk sejarahnya kenapa banguna Vihara Mega Sakti Lubuklinggau dibangun di Jalan Riau tidak ada. Ide pembangunan Vihara timbul setelah melihat posisi tanah berada jauh dari pemukiman sehingga tidak menganggu masyarakat umum. Lokasinya sangat mudah dijangkau karena tidak terlalu jauh bila ditempuh dengan jalan kaki. Kemudian lokasi tanah dekat sungai Kelinggi juga menjadi pertimbangan alasan pembangunan Vihara,” cerita Wakacung Tanarya, salah seorang panitia perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Wie Teng Bio Kong Tek Cun Ong ke 6 di Vihara Mega Sakti Lubuklinggau beberapa waktu lalu.
Selain itu pertimbangan lain karena pada awalnya tanah tempat didirikannya Vihara Mega Sakti Lubuklinggau milik Haki Karim alias Sengki, Sumardi alias Asen dan Susanto alias Bunlim. Atas perkarsa tiga pengurus inti pembangunan dan pengurus lainnya Vihara Mega Sakti akhirnya dapat selesai dibangun.
“Vihara Mega Sakti tidak dikhususkan untuk kelompok marga. Seluruh umat Budha baik dari Lubuklinggau, Kabupaten Musi Rawas, Curup bahkan seluruh Indonesia boleh menjalankan ibadah disana,” tegas Wakacung.
Sebelum perayaan HUT Wie Teng Bio Kong Tek Cun Ong, biasanya didahului dengan prosesi pemanggilan para dewa. Saat itu biasanya dewa yang dipanggil masuk kesalah tubuh seorang hingga bertingkah laku diluar batas kemampuan manusia. Bahkan terkadang ada juga dewa yang mampu mengobati seseorang dengan perantara tubuh manusia.
Sebelumnya Sengki mengemukakan, alasan dirinya menghibahkan tanah untuk pembuatan kelenteng semata-mata hanya untuk kelancaran ibadah. “Kita hibahkan sertifikat yang kita miliki untuk sarana ibadah. Jadi kalau selama ini kelenteng lahannya masih milik pribadi, saat ini sudah menjadi milik yayasan,” ucap Sengki. (*)


    ShoutMix chat widget