Kesehatan Rumini Makin Memburuk

Jumat, 08 Oktober 2010

Dinkes Rujuk ke RS Siti Aisyah

LUBUKLINGGAU–Rumini (30) kembali datang ke Rumah Sakit Siti Aisyah, dibantu oleh petugas pelayanan kesehatan dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Lubuklinggu. Kedatangan Rumini ini untuk kedua kalinya setelah 30 Juni lalu sempat dibantu oleh petugas dari Puskesmas Citra Medika untuk memeriksakan diri karena kondisi kesehatan Rumini yang kian memburuk.
“Saat 30 Juni 2010, kesehatan Rumini sudah dalam keadaan yang kurang baik. Dalam artian tubuhnya sudah mengurus, berat badannya hanya 35 Kilogram, status gizinya juga buruk, Hemoglobin turun, dan kebocoran ginjalnya jelek. Jadi kami sempat menyarankan kepada pasien untuk mengikuti pemeriksaan lebih lanjut. Bahkan Aisyah bersama donatur sudah siap membantu pasien. Hanya saja setelah satu malam menginap di Aisyah, lebih kurang 1x24 jam tiba-tiba keluarga pasien minta untuk segera pulang,” jelas dr Eva Romayanti, saat ditemui wartawan koran ini di ruang pelayanan RS Siti Aisyah, Kelurahan Air Kuti, Lubuklinggau, Kamis (7/10).
Sebagai dokter yang menangani langsung Rumini, dr Eva Romayanti akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu Rumini. “Sejak tiba di Siti Aisyah, kami sudah wanti-wanti kepada Sunarti (ibu Rumini) agar tetap mendukung pasien untuk mendapat penanganan lebih lanjut,” ungkap Eva.
Sementara ini dari hasil pemeriksaan luar, kondisi pasien kami bernama Rumini warga Jalan Wijaya, RT 08. Kelurahan Majapahit, Lubuklinggau Timur I memang semakin kritis dibanding awal Juli lalu. “Kondisi tubuhnya yang terkadang tiba-tiba panas dan mengejut dingin, menyebabkan bibirnya sudah pecah-pecah bahkan berdarah. Berat badan kurang dari 30 kilogram. Hanya saja untuk berjalan masih sanggup tapi masih membutuhkan bantuan, dan dalam hal makan sama seklai tidak terganggu,” jelas Eva.
Meskipun demikian, tambahnya, kami tetap menghawatirkan sesuatu keganasan terjadi di perut bagian kanan. Pasien mengeluhkan rasa nyeri, panas, bahkan tidak pernah sembuh. Sementara ini kami belum berani menyimpulkan hasil diagnosa. Hanya saja kami menghawatirkan keadaan ginjal dan organ reproduksi pasien.

“Besok pagi, akan ada dokter spesialis penyakit dalam khusus menangani Rumini. Jadi untuk hasil diagnosa mungkin baru bisa dilihat Sabtu mendatang. Saya berharap rekan pers bisa membantu Rumini. Perlu ditegaskan, dalam hal ini Rumini bukan pasien yang didiagnosa gizi buruk. Namun ada sebuah penyakit yang menyebabkan pasien harus berstatus gizinya buruk, ” tegasnya.

Wartawan koran ini lantas diberi kesempatan untuk bertemu langsung dengan Rumini. Keadaan Rumini sangat lemah. Kantong inpus masih menggantung di samping ranjangnya di Ruang Ibnu Sina. Tubuhnya yang tinggal kulit terbungkus tulang pucat, kuku-kuku di jarinya putih pasi. Bahkan bibir sebelah kirinya terdapat bercak darah yang memerah. Tangan kanannya terus memegangi perut sebelah kanan. “Ini sakit mbak. nyeri, tiap hari terus begini. Saya benar-benar ingin sembuh mbak. Sejak hamil 3 bulan anak saya yang kedua saya merasa ada yang aneh dengan tubuh saya. Sampai saat ini kondisi saya semakin buruk,” jelas Rumini yang saat itu mengenakan baju tidur merah muda yang lusuh.
Di samping Rumini berdiri Sunarti, ibunya. Sembari menggendong Jerry Prenaldi (1,3) Sunarti mengatakan, “Sebenarnya Rumini menderita sakit ini sejak dua tahun lalu. Tapi kondisi paling buruk baru dialami satu setangah tahun ini. Sejak mengandung Jerry, Rumini terus sakit-sakitan dan tubuhnya terus mengurus. Bahkan Jerry dilahirkan hanya dengan berat 1,1 kilogram,” terang Sunarti sambil terus mengelus Jerry.

Saat ini Rumini ditemani kedua anaknya, Meisarani (3) dan Jerry Prenaldi (1,3). “Suami saya (Deddy Chandra) meninggalkan saya sejak saya hamil Jerry. Bahkan, sampai saat ini dia tidak pernah kunjung datang. Kabarnya dia kembali pada istri pertamanya di Batu Urip,” terang Rumini dengan suara pelan.

Saat ini, lanjut Rumini, saya tidak punya cita-cita apapun. Kecuali untuk sembuh dan melihat perkembangan anak-anak. “Sebenarnya sejak lama saya ingin segera berobat agar sembuh. Tapi bagaimana, orang tua saya saja susah belum lagi harus menghidupi kedua anak saya, belum lagi saya tidak bisa apa-apa. Bisanya cuma duduk. Untuk makan saja sulit apalagi untuk berobat,” jelas Rumini.

Rumini sangat membutuhkan bantuan kaum dermawan. “Saya berharap pemerintah dan masyarakat bisa membantu saya dan keluarga. Kalaupun saya harus dibawa ke Palembangpun saya bersedia. Agar saya lekas sembuh,” ungkapnya penuh harap. (Mg03)


    ShoutMix chat widget