Puria Derohim Senang, Irsan Sempat Takut

Puria Derohim menjadi Jemaah Calon Haji (JCH) Kabupaten Musi Rawas (Mura) yang tertua, dan Irsan termuda. Mereka memiliki cerita tersendiri hingga merasa siap berangkat ke Tanah Suci Mekkah. Berikut kisahnya.

Ronald Chandra-Leo Mura, Muara Beliti

MANASIK haji berlangsung di Masjid Agung kawasan Agropolitan Centre, Kecamatan Muara Beliti, Kabupaten Musi Rawas, sangat berkesan bagi para jemaah. Betapa tidak mereka khusyuk mengikuti tahapan manasik haji. Begitu pula dengan Puria Derohim dan Irsan. Apalagi saat manasik haji diperagakan oleh pembimbing dengan melambaikan tangan sembari meneriakkan,“Labbaikallah humma labaik” sambil mengelilingi bangunan yang mirip berbentuk Ka’ba.
Puria Derohim Bokul, nama lengkap JCH tertua itu dilahirkan di Lubuk Besung, 87 tahun silam. Puria mengaku sangat antusias mengikuti manasik haji, karena untuk pertama kalinya akan berangkat pergi haji. “Rasanya kurang lengkap menjadi umat muslim jika belum menunaikan rukun Islam kelima,” kata Puria kelihatan senang pada wartawan koran di sela-sela manasik haji, kemarin.
Untuk berangkat haji kali ini, Puria mengatakan ia tidak mengeluarkan uang sepeserpun. Semuanya ditanggung oleh putranya Badaruddin, yang notabene menjabat Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Kabupaten Mura. “Dari mulai mendaftar hingga berangkat nanti, Badaruddin yang mengurusnya,” ungkap Puria yang berperawakan kurus ini. Perlu diketahui, Puria yang kini tinggal di Lubuklinggau berprofesi sebagai petani, namun dari hasil bertani itu ia berhasil membesarkan dua orang putra dan empat orang putri. Hingga putra sulungnya berhasil menjabat Kepala Dinas. Dan semua anak-anaknya telah menikah.
Setelah sampai di Mekkah nanti, Puria mengatakan akan menyempatkan berdoa di sana untuk kesembuhan isterinya yang kini terbaring sakit. Hingga tak bisa menemaninya berangkat haji. Serta doa selamat murah rezeki bagi keluarganya. “Tidak ada yang khusus dalam doa saya, sama seperti kebanyakan orang saja. Pergi haji saya sudah bersyukur, jadi saya akan mencoba mensyukuri nikmat ini,” tutur Puria dengan nada merendah.
Kakek dengan 16 orang cucu mengaku telah pasrah dengan apa yang akan terjadi di sana. Ia juga telah menyiapkan segala sesuatunya baik secara lahir maupun batin. “Mudah-mudahan saya diberikan kesehatan untuk sampai ke sana maupun pulang dengan selamat. Agar dapat mengamalkan ilmu dan pelajaran yang saya dapat di sana,” tutupnya.
Berbeda dengan Puria, Irsan (19), dilahirkan di Muara Lakitan 5 Februari 1991 mengatakan,“Saya merasakan hal yang berbeda, akankah saya bisa pulang dan sampai ke tanah suci?”
Kata Irsan kepada wartawan koran ini, kemarin, awalnya bebagai macam rasa yang muncul dibenaknya saat orang tua ingin menginginkan dia untuk ditemani menunaikan rukun Islam kelima.
“Sebenarnya, saya belum ada niat dan pantas untuk naik haji. Bahkan rasa takut yang mendalam yang selalu muncul dalam kesunyian. Dibenakku hanya kata dosa yang terlintas. Entah apa yang membuat saya yakin untuk dapat melanjutkan dan menunaikan ibadah haji ini. Sejak saat ini saya mempersiapkan diri dengan banyak bertaubat dan berzikir kepada Allah SWT. Setiap sudah shalat saya selalu melakukan shalat sunat Taubah untuk diberi kemudahan dan selamat hingga sampai tujuan dan memenuhi niat suci ini,” ungkap alumni SMA Negeri 5 Lubuklinggau.
Irsan berharap dengan telah menapakan kaki di tanah suci dapat membawa keberkahan dan magfirah dari Allah SWT. “Sehingga sepulang dari tanah suci dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT,” ucap pemilik tinggi 171 Cm dengan bobot 50 Kg.
Lalu, bagaimana dirinya akan menunaikan ibadah haji yang mabrur jika dirinya selalu dihantui rasa takut akan dosa? Dengan santai Irsan mengaku takut kepada Allah SWT merupakan salah satu motivasi dirinya agar lebih dekat dengan Allah SWT. “Maka awali dengan niat, Insya Allah apa yang kita lakukan dapat kemudahan dari Allah SWT,” tutur Irsan saat itu mengenakan kopiah hitam dengan baju koko.(*)


    ShoutMix chat widget