Menikmati Keindahan Danau Toba

Minggu, 22 Agustus 2010

Membutuhkan waktu semalam penuh dari Kota Medan menuju Danau Toba. Perjalanan kami diawali dari Kampus Universitas Muhamadiyah Sumatera Utara, bersama seluruh peserta dan panitia Ajang Pelatihan Jurnalistik Nasional Teropong (ALMAMATER) tahun 2010.

Perlu diketahui, Danau Toba merupakan danau vulkanik yang terjadi saat ada ledakan gunung berapi pada 69.000-77.000 tahun lalu, diperkirakan juga sebagai salah satu ledakan gunung berapi terbesar di dunia. Tipe danau adalah Volkanik atau Tektonik.
Dari sumber yang saya baca, kedalaman Danau Toba mencapai 505 Meter, dengan panjang 100 km dan lebar 30 Km. Namun, salah seorang rekan saya, Winarti (Penulis Novel Meraih Bintang) mengatakan luas dan kedalaman Danau Toba sudah mengalami perubahan.

Setelah ledakan tersebut, terciptalah kaledra (Cekungan pada tanah sesudah letusan vulkanik) yang kemudian terisi oleh air dan kita ketahui sebagai danau toba sekarang.

Ditengah Danau Toba juga terdapat pulau kecil yang juga disebut Pulau Samosir.

Jika pembaca sekalian ingin berwisata ke Danau Toba disarankan untuk membawa jaket atau baju tebal. Sebab udara pagi di sana sangat dingin.

Dan bagi yang berniat untuk berlibur ke Danau Toba, sebaiknya mencoba untuk singgah ke kota Parapat. Di sana pembaca bisa berbelanja aksesories Lake Toba, melihat langsung penenun Ulos (kain tenun asli Sumatera Utara) dan perfoto bersama si Gale-gale di rumah asli Suku Batak.

Untuk menuju Parapat, wisatawan harus menyewa sebuah kapal pesiar kecil. Hanya dengan membayar Rp 30 ribu per orang, kapal pesiar ini akan memboyong wisatawan menuju Parapat. Dari Parapat pula wisatawan bisa menikmati keindahan danau toba yang lebih jelas.

Parapat juga termasuk salah satu kota pariwisata di Sumatera Utara. Mayoritas etnis penduduk di sekitar daerah danau toba adalah batak. Pada umumnya masyarakat di sana bermata pencaharian sebagai petani, pedagang, dan nelayan.

Saya yang saat itu bersama peserta ALMAMATER 2010 yang lain,  sebenarnya cukup kagum dengan Danau Toba dan potensi alamnya. Semua itu  terlepas dari fakta yang mengatakan bahwa jumlah turis sudah menurun disana akibat kurang perhatian dan perawatan dari pihak yang bertanggungjawab.

Apapun itu Danau Toba memang akan jadi tanggung jawab kita bersama, dan wajib untuk dilestarikan.(Sulis)


    ShoutMix chat widget