Polisi Tembak Pendemo Anarkis

Rabu, 19 Mei 2010





Foto Santoso/Linggau Pos
SIMULASI : Salah seorang pendemo terpaksa ditembak petugas karena bertindak anarkis dalam simulasi pengamanan Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah di Mapolres Musi Rawas, Selasa (18/5).




Simulasi Pengamanan Pemilukada
MUSI RAWAS–Ratusan massa pendukung Calon Bupati (Cabup) dan Calon Wakil Bupati (Cawabup) Kabupaten Musi Rawas (Mura), Selasa (18/5) menyerbu Kantor Pemilihan Umum (KPU) Mura. Aksi tersebut dilakukan akibat ketidakpuasan massa pendukung Cabup dan Cawabup atas hasil perhitungan suara Pemilihan Umum (Pemilu) Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang diumumkan KPU Mura. Dalam aksi kemarin, aparat kemanan terpaksa mengamankan seorang provokator dan menembak seorang demonstran yang berbuat anarkis. Demikian skenario simulasi pengamanan Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang dilaksanakan Polres Mura, Selasa (18/5), di halaman Mapolres Mura, di Kecamatan Muara Beliti.
Simulasi pengamanan kemarin dimulai dari ratusan massa mendatangi kantor KPU Kabupaten Mura, yang sedang melaksanakan pleno penghitungan suara. Usai mendengarkan hasil pleno, salah seorang massa pendukung Cabup dan Cawabup tidak menerima dan melakukan protes. Awalnya polisi sempat melakukan negosiasi kepada salah seorang perwakilan massa, namun upaya ini gagal dan massa mencoba menerobos masuk ke dalam kantor KPU.
Melihat kondisi ini, Kapolres Mura AKBP Imam Sachroni memerintahkan satu pleton Dalmas menghadang massa menggunakan tali. Upaya ini tidak membuahkan hasil karena massa terus bertambah dan bertindak brutal mencoba membakar kotak suara yang ada di dalam kantor KPU.
Selanjutnya pihak keamanan menerjunkan pleton Dalmas Lanjutan dibekali senjata tongkat dan tameng. Tindakan ini ternyata tidak membuat para demonstran mundur, malah sebaliknya mereka berbuat anarkis dengan melempari aparat kepolisian dengan botol minuman.
Melihat kondisi yang tidak kondusif, Kapolres Mura memerintahkan Pasukan Anti Huru Hara (PHH) Brimob Polda Sumsel dengan membentuk formasi, menghadang para demonstran. Kemudian Danton PHH mencoba melakukan negosiasi menenangkan massa, namun lagi-lagi tidak membuahkan hasil karena massa terus bertindak anarkis.
Selanjutnya petugas menembakan gas air mata dan menurunkan mobil Water Canon untuk membubarkan massa. Upaya ini membuahkan hasil dan polisi mengamankan salah seorang demonstran yang diduga sebagai provokator. Selain itu petugas juga membawa salah seorang demonstran yang terluka guna mendapatkan perawatan tim medis.
Setelah dilakukan penembakan dengan water canon, ratusan massa membubarkan diri meninggalkan kantor KPU.
Aksi anarkis demonstran rupanya tidak berhenti sampai disitu. Massa mencoba melakukan penghadangan terhadap mobil Box pengangkut logistik Pemilu dibeberapa ruas jalan. Personil pengamanan tertutup mengetahui adanya aksi ini, melapor ke Kapolres Mura, yang langsung memerintahkan Tim Tindak Anarkis Sat Brimob.
Dalam aksi ini, Tim Tindak Anarkis mencoba memberikan tembakan peringatan tiga kali ke udara membubarkan massa yang mencoba merusak mobil Box pengangkut logistik. Tembakan peringatan dikeluarkan petugas tidak dihiraukan, massa terus mencoba membalikan mobil pengangkut logistik tersebut. Selanjutnya, petugas melumpuhkan salah seorang demonstran dibagian kaki kananya. "Anggota Tim Tindak Anarkis semuanya Sniper (Penembak jitu), karena tugasnya hanya melumpuhkan sasaran di bagian pinggang ke bawah," ungkap Kapolres Mura AKBP Imam Sachroni melalui Kabag Ops Kompol Richard P kepada wartawan koran ini.
Diadakannya simulasi tersebut menurut Richard, untuk mengantisipasi kemungkinan buruk yang terjadi selama Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Mura. "Kita berharap simulasi yang diperagakan hari ini (kemarin,red) tidak terjadi," imbuhnya.(03)



    ShoutMix chat widget