Image Hosting
Image Hosting


*Jhon Murasia, Kandidat Balon Wabup Musi Rawas
Salah seorang kandidat Bakal Calon Balon Wakil Bupati Musi Rawas (Wabup Mura) yang telah mengembalikan formulir melalui PDI Perjuangan, adalah Jhon Murasia. Untuk mengetahui sejauh mana keinginan pemuda asal Bingin Teluk, Kecamatan Rawas Ilir ini ikut ambil bagian dalam bursa Pemilukada Musi Rawas, 5 Juni 2010, berikut laporannya.

Solihin, Musi Rawas

PRIA yang berpenampilan sederhana ini menjelaskan bahwa keinginannya turut serta dalam Pemilukada ini adanya dorongan dan motivasi dari keluarga, terutama kedua orang tuanya yakni H Asnawi Anang dan Hj Zaimurni. Dalam hidupnya, restu orang tua itu selalu dinomorsatukan. Awalnya dia tidak berpikir untuk terjun ke dunia politik, apalagi mencalonkan diri sebagai bupati atau wakil bupati. Sudah ada satu dua orang kandidat calon bupati yang menawarkannya untuk berpasangan, tapi waktu itu masih ditolak. Alumni Fakultas Ekonomi Unsri itu selama ini fokus pada kemajuan perusahaan yang dikelolanya. Tapi, bukan berarti tidak mengikuti perkembangan daerah. Malah, sekecil apapun perkembangan daerah selalu ia pantau. Itulah wujud kecintaannya pada tanah kelahiran. “Nama saya diberikan orangtua adalah Jhon Murasia, Murasia berarti Musi Rawas, Indonesia, menunjukkan kecintaan orang tua saya pada Kabupaten Mura dan Republik Indonesia. Sebagai bentuk penghormatan saya pada orang tua, sayapun akan selalu mencintai Mura. Itulah idelanya. Demikian diungkapkan oleh Jhon yang pernah beberapa tahun tinggal di New Zealand ini.

“Saya berpikir, memang geliat pembangunan di Kabupaten Mura gaungnya cukup bergema. Namun demikian, pemerataan pembangunan, pemanfaatan sumber daya alam untuk kepentingan rakyat kecil belum dirasakan oleh sebagian besar masyarakat kita,” katanya.

Sebagai contoh, keberadaan beberapa perusahaan perkebunan yang terlihat selama ini hanya memberatkan pemerintah daerah, mulai dari persoalan sengketa lahan dengan masyarakat, penyerapan tenaga kerja lokal, sampai pada kerusakan jalan. Yang lebih membuat saya tertantang adalah pemberian izin lokasi kepada pengusaha perkebunan hanya berujung pada pengalihan penguasaan 70% lahan dari masyarakat kepada perusahaan. Karena, perusahaan hanya menyediakan lahan untuk plasma 20-30% saja.

Selebihnya kebun inti perusahaan. Bayangkan, lahan kita yang luas selama ini menjadi sumber kehidupan begitu banyak rakyat, akhirnya hanya dikuasai oleh segelintir orang saja. Hal itu ironi! Dampaknya, rakyat kita menjadi buruh harian lepas saja. Mau bertani, berkebun sudah tidak memiliki lahan lagi, kita hanya menjadi penonton,” jelas Jhon, panjang lembar.

Mengenai bagaimana menata Mura kedepan, dia menjelaskan, Sumber Daya Alam sangat mendukung. Kabupaten Mura kaya raya. Dan Mura tidak kekurangan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk menata pembangunan di kabupaten berslogan “Lan Serasan Sekantenan” ini. Banyak orang-orang Mura yang cerdas dan berpikir maju. Tetapi, pemanfaatannya saja yang belum optimal. Barangkali, nuansa fatron-client, egoisme regional, kesukuan, kedaerahanlah yang selama ini lebih mengemuka. Banyak orang-orang cerdas yang belum termanfaatkan. Kita masih terkotak-kotak. Kalau semua SDM kita dimanfaatkan dengan baik, saya pikir bukanlah suatu hal yang sulit untuk menata daerah kita,”para Jhon Murasia.

Nampaknya pemikiran Jhon Murasia ini jauh lebih dewasa dari umur dan suatu pemikiran yang cerdas.
Ketika ditanya seperti apa idealnya pemimpin Mura kedepan? Dia mengatakan bahwa idealnya pemimpin Mura kedepan adalah pemimpin yang mampu membuat rakyatnya mengatakan “ternyata kita hebat, ya” bukan pemimpin yang membuat pengikutnya mengatakan “memang pemimpin kita ini hebat, ya.” Begitu dalam dan penuh makna philosofi, kepemimpinan yang dikemukakan Jhon Murasia. “Dan yang tak kalah penting lagi, pemimpin itu harus memiliki entrepreneurship, jiwa kewirausahaan. Kalau tidak memiliki itu, sekaya apapun daerah kita, tidak akan membuat rakyat kita menjadi sejahtera, pasti! Daerah kita kaya, tapi apakah rakyat kita sudah sejahtera?,” katanya, balik bertanya.

Pandangan Jhon Murasia tentang pemuda kita, bahwa potensi SDM Kabupaten Mura lebih kurang 40 persennya adalah pemuda. Pemuda harus diberdayakan, itulah potensi terbesar kita. Harus ada upaya pemberdayaan pemuda dengan mengarahkan meraka pada bentuk-bentuk kegiatan produktif.

“Sebagai orang muda, saya berpandangan bahwa pemuda harus dijadikan prioritas pembangunan. Mereka harus memiliki keterampilan produktif. Itulah SDM terbesar kita. Pemuda harus berpenghasilan, tidak boleh menjadi pengangguran. Kalau mereka lebih banyak menganggur, akan sangat berdampak pada kamtibmas kita. Caranya, kita harus memilki balai-balai pelatihan kerja, sekolah-sekolah kejuruan yang sesuai dengan potensi alam kita. Contohnya, sekolah pertanian, perkebunan, dan sekolah menengah teknologi pengolahan hasil pertanian. Ya pendidikannya cuma 3 tahun, sudah bisa langsung kerja, sederhana sajakan?,” tambahnya.

Saat ditanyakan konsep pembangunan Mura nanti seperti apa? Jhon Murasia, menjelaskan bahwa Mura adalah daerah pedesaan, bukan perkotaan. Tentu pembangunan harus dimulai dari pedesaan. “Lahan kita luas, dan itu semua ada di desa. Nah, kita jadikan pedesaan target pembangunan. Arahkan mereka untuk bertani, berkebun, memiliki kebun sendiri. Jangan kita giring mereka menjadi buruh. Tidak akan pernah sejahtera kalau mereka menjadi buruh. Tapi, kalau mereka rata-rata per KK memiliki 4- 6 ha kebun yang dikelola dengan baik, wah bukan main hasilnya. Tidak perlu ada program gratis-gratis! Kalau masyarakat kita mampu menyekolahkan anak dengan biaya sendiri, berobat sendiri. Dan tentu bayar PBB sendiri, tidak harus ditalangi Kepala Desa (Kades) atau lurah,” paparnya.

Ternyata, Jhon Murasia berpikirnya sederhana-sederhana saja, tetapi sarat makna. ”Kebijakan itu yang penting mudah dalam pelaksanaannya, tidak perlu muluk-muluk, apalagi pembangunan bersifat mercusuar. Tinggi menjulang, sulit dijangkau! Kalau kata ahli kebijakan itu harus bersifat Implementatif,” tambahnya lagi.(*)

Image and video hosting by TinyPic

    ShoutMix chat widget