*Besarnya Dana Tak Sesuai Mutu Bangunan
MUARA BELITI-Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Kesehatan LSM Gelombang Umat (Gelomat) Kabupaten Musi Rawas (Mura), Ahmad Jamaluddin mengaku prihatin dengan keberadaan Rumah Sakit Umum (RSU) Duafa yang berada di kompleks perkantoran Pemkab Mura di kawasan AC karena kondisinya rusak parah.
Walaupun menelan dana miliaran rupiah, namun hingga kini fasilitas tersebut belum bisa dimanfaatkan secama maksimal. Padahal saat peresmian sekitar setahun lalu, diadakan upacara sangat meriah, diisi dengan berbagai sambutan oleh para pejabat yang menyejukkan hati masyarakat.
Ironisnya, kata Jamal, setelah peresmian semua dianggap selesai. Sekarang mata masyarakat dapat melihat dan menyaksikan langsung bahwa rumah sakit yang dibangun dengan dana fantastis itu ternyata belum bisa dimanfaatkan sebagaimana mestinya.
“Kalaupun rumah sakit tersebut dipaksakan untuk difungsikan, maka akan sangat berbahaya bagi karyawan rumah sakit sendiri maupun pasien yang akan berobat,” terangnya.
Dari pantauan LSM Gelomat di lapangan, kondisi RSU Duafa sangat memprihatinkan. Beberapa bagian plafonnya sudah jebol, atap mulai pada bocor, dinding sudah banyak yang retak serta kaca-kaca juga pecah dan hanya ditutupi lakban.
Kemungkinan hal itu terjadi karena adanya dugaan korupsi dengan berbagai dalih, mulai dari kewajiban membayar fee proyek hingga dugaan sunat menyunat di kalangan pelaksana di tingkat bawah.
Mengenai kondisi bangunan, lanjut Jamal, sudah sepatutnya aparat penegak hukum harus proaktif mengawasi pelaksanaan di lapangan mengingat dana yang telah dianggarkan sangat besar. Aparat penegak hukum jangan bersifat pasif dengan hanya menunggu laporan dari masyarakat. Dari keadaan fisik bangunan saja sebenarnya aparat hukum sudah bisa mengambil langkah-langkah penegakan hukum, semisal melakukan penyelidikan, jangan menunggu jatuhnya korban baru mengambil tindakan.
Lebih parahnya lagi, pada anggaran tahun 2009 lalu, kesalahan-kesalahan seperti tahun-tahun sebelumnya kembali diulangi. Sebagai contoh, ada sebuah Poskesdes yang dibangun dari Dana Alokasi Khusus (DAK) bidang kesehatan malah dibangun di tengah hutan dekat kuburan yang jauh dari jangkauan masyarakat. Belum lagi kondisi fisik bangunan yang terkesan amburadul. Kemudian dalam hal pengadaan alat kesehatan diduga kualitasnya jauh dari tuntutan standar.
Melihat kondisi di atas, dirinya mengajak semua elemen masyarakat yang peduli dengan pelayanan kesehatan, mari bersama-sama mengontrol penggunaan dana bagi kelangsungan hajat hidup orang banyak. Caranya melaporkan setiap rupiah yang diduga diselewengkan oleh oknum-oknum berwatak korup. Tujuannya tidak lain agar kedepan tidak ada lagi proyek fisik maupun pengadaan alat-alat kesehatan yang jauh dari standar, atau bahkan dapat membahayakan pengguna banyak fisik tersebut.
Menurutnya, upaya pemerintah membangun rumah sakit, tentu saja merupakan sebuah itikad baik dalam memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Demikian pula dalam masalah penyediaan alat-alat kesehatan dan penyediaan obat-obatan juga merupakan sebuah keharusan.
Diungkapkan Jamal, pengadaan alat-alat kesehatan yang tidak memenuhi standar kesehatan, seperti ada alat kesehatan yang hanya cashingnya saja baru adalah contoh nyata dari bentuk-bentuk korupsi yang tanpa memikirkan keselamatan dan kemaslahatan orang banyak. Begitu juga dengan pendistribusian obat-obatan ke Puskesmas-puskesmas, ada indikasi obat tersebut adalah barang murahan. “Jadi, tidaklah heran jika dikalangan masyarakat terkenal anekdot bahwa Puskesmas hanya bisa mengobati pasien pusing, keseleo, dan masuk angin saja,” pungkasnya. (03)





0 komentar