*Pengalaman Yanwibowo Naik Haji Diusia Muda
Menunaikan rukun Islam kelima sudah dijalankan oleh Yanwibowo Fakhri, jemaah kloter 5 Kabupaten Musi Rawas. Dalam usia 28 tahun pada 15 Desember nanti, lajang ini sudah bergelar haji. Apa saja pengalaman guru SMAN Bingin Teluk saat berada di tanah suci Mekkah? Berikut penuturannya.
Budi Santoso, Musi Rawas
TAHUN ini, Yan, sapaan pria asli Bingin Teluk Rawas Ilir ini, berangkat menunaikan ibadah haji ke tanah suci bersama ibu terkasih, Warsihati. Sebenarnya, niat berangkat haji sudah dicanangkan sejak 2008 lalu, tetapi karena jumlah kuota haji untuk Kabupaten Musi Rawas sudah penuh maka baru tahun ini, ia bisa ke tanah suci.
Saat dijumpai di rumah kerabatnya di Keramat, Cereme Taba, kemarin (11/12) sekitar pukul 17.00 WIB, Yan nampak ramah menyambut kedatangan wartawan koran ini. “Silakan masuk kedalam,” ajaknya setelah membalas salam diucapkan untuknya. Karena baru saja sampai pada pagi hari tadi bersama jemaah haji Musi Rawas, terlihat jelas kelelahan di wajahnya. Namun, Yan dengan ramahnya menyuguhkan air Zam-zam lengkap bersama makanan kecil khas Negara Arab Saudi. Mulai dari kurma hingga kacang-kacangan dengan cita rasa yang lezat. Di ruang tengah saudaranya itu, cukup banyak ibu-ibu sengaja datang bertandang ke rumah, sama halnya menyambut kedatangan orang yang baru pulang dari haji.
Yan yang berperawakan sedang ini dengan antusias menuturkan pengalaman singkatnya saat berada di Mekkah Al Mukaromah. Kata syukur tak lepas dari bibir Yan, yang kepalanya sekarang plontos. Setelah tiba kembali ke tanah air, dan bisa berkumpul kembali bersama saudaranya. Mantan wartawan Linggau Pos ini juga selalu mengucap syukur pada-Nya.
“Alhamdulillah, saya dan ibu sudah pulang dari tanah suci. Saya naik haji awalnya mendampingi ibu yang akan berangkat, karena sebelumnya ayah saya Fakhri, yang siap naik haji, tetapi ayah meninggal dunia beberapa tahun lalu, dan sekarang barulah saya dan ibu saja berangkat ke sana,” ucap Yan memulai pembicaraan. Ayah Yan sendiri adalah mantan anggota DPRD Musi Rawas tahun 1980-an, dan juga dikenal sebagai guru di Kecamatan Rawas Ilir serta tokoh terpandang di sana.
Lalu, Yan saat itu mengenakan baju koko dipadu kopiah meneruskan, dengan usia yang masih muda serta tenaga yang masih kuat membuat dirinya mampu melaksanakan ibadah dengan baik. Dan yang jelas bisa membantu ibunya saat melaksanakan rukun haji hingga wukuf di Padang Arafah.
“Saya merasa dengan usia muda saat naik haji, bisa kemana-kemana untuk menjalankan rukun haji. Bayangkan saja jarak maktab (Hotel tempat menginap) kami ke Masjidil Haram cukup jauh, hingga 6 km. Jadi dengan usia muda jika akan berangkat ke sana badan tidak terlalu capek, karena tenaga masih kuat,” ucap anak ketujuh dari 10 bersaudara itu. Kegiatan rutin selama di sana, diakui Yan yang bobot tubuhnya naik 3 kg ini, banyak beribadah juga ziarah ketempat bersejarah.
Saat itu, Yan tergabung dengan KBIH Linggau Mura, tinggal di maktab Aziziah Janubiah bersama rombongan 4, dapat menjalankan rangkaian ibadah dengan lancar. Apalagi mereka dibimbing H Hermanjaya dari KBIH, yang sudah berpengalaman membawa rombongan haji sebelumnya.
Hanya saja saat melaksanakan wukuf, rombongan haji asal Musi Rawas mesti tabah. Karena untuk meraih gelar haji pada puncak wukuf itu diikuti jutaan jemaah dari seluruh dunia. “Di sini kami mesti sabar dan menjalankan ibadah dengan ikhlas semata-mata karena Allah SWT. Apalagi sebelum wukuf kami kesulitan untuk tempat tidur, jadi terpaksa bersusun seperti ikan sarden saking banyaknya manusia di sana untuk satu tenda,” papar Yan mengenang. Suaranya agak tertahan saat mengingat wukuf tersebut. Untungnya, sambung dia, kondisi kesehatan jemaah kami cukup baik, meski ada juga yang terserang flu dan batuk. “Paling kami terkena batuk atau flu karena cuacanya kurang bersahabat,” tambah guru TKST ini.
Rasa syukur terus terucap dari bibir Yan, yang berencana akan segera menikah setelah selesai berhaji. Apalagi saat berada di sejumlah tempat yang kabarnya afdol untuk memanjatkan doa, misalnya, di Musdalifah, Raudah, Mustajab, dan Arofah. Apa saja doa yang dipanjatkannya? Dengan suara terdengar ngebas, Yan mengungkapkan, ia mohon ampun pada Allah SWT atas segala dosa yang telah dilakukan selama ini.
“Saya juga mendoakan agar dosa-dosa orang tua saya diampuni. Dan juga saya minta ampun pada-Nya atas dosa saya perbuat karena sebagai makhluk yang lemah tentu saya banyak berbuat dosa,” ucap Yan juga menyebutkan, di sana ia minta diberikan jodoh yang terbaik agar dapat membina keluarga yang sakinah, mawaddah dan warohmah, amin.
Pulang dari berhaji, Yan mengaku ada kerinduan untuk kembali ke tanah suci pada tahun-tahun mendatang. Namun, ia juga meyakini hal terpenting sekarang adalah rasa tanggung jawab dalam diri setelah menyandang predikat haji. “Saya rasa ada tanggung jawab moral yang saya emban dengan predikat haji. Yang jelas ini berkaitan dengan prilaku yang mesti saya jaga saat berada di tengah-tengah masyarakat,” imbuh Yan dengan suara terdengar mantap. (*)


    ShoutMix chat widget